Rabu, 11 April 2012

pendidikan dalam perspektif islam

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang “pendidikan dalam perspektif islam”, meliputi konsep pengetahuan dalam islam,baik pengetahuan umum dan pengetahuan agama, tujuan pendidikan islam, baik dari tujuan keagamaan maupun tujuan keduniaan, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
B.     Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang saya bahas dalam makalah ini adalah tentang pendidikan dalam perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan pendidikan islam, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan Makalah ini saya susun adalah untuk:
1. Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tentang pendidikan dalam perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan pendidikan islam, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.

2. Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat makalah tentang pendidikan islam yang actual dan factual.
    
D.  Metode Penulisan
            Metode penulisan yang saya pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan library research yaitu metode yang menggunakan buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang saya buat sebagai bahan utama dan sebagai penunjang mengguankan internet dalam pembuatan makalah ini.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Pengetahuan dalam Islam
Menurut Al-quran, semua pengetahuan datang dari Allah. Konferensi internasional tentang Pendidikan islam tahun 1980 membuat rekomendasi sebagai berikut ini (King Abdul Aziz University). Semua pengetahuan datang dari Allah. Sebagian di wahyukan kepada orang yang di pilih nya dan sebagian lagi diperoleh manusia dengan menggunakan indera, akal, dan hatainya. Pengetahuan yang di wahyukan mempunyai kebenaran yang absolute sedangkan pengetahuan yang diperoleh, kebenaran nya tidak mutlak.[1]
                Pengetahuan adalah semua yang diketahui 1 ini tentu bukanlah definisi pengetahuan,tetapi itu sudah lumayan untuk menjelaskan apa pengetahuan itu. Dalam pembicaraan sehari-hari sering kali dengar dengan istilah pengetahuan umum dan pengetahuan agama.
 
1.Pengetahuan umum

            Pengetahuan sains adalah jenis pengetahuan manusia yang pertama.dalam bahasa indonesia yang pertama,pengetahuan ini disebut ilmu. Orang indonesia menyebut "sains" dengan"ilmu pengetahuan". Dalam bentuknya yang baku (hingga kini)pengetahuan sains mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya ialah paradigma sains,metodenya disebut metode Lanjutan pengetahuan sains yakni pengetahuan jenis kedua yang disebut dengan pengetahuan filsafat. Paradigma untuk pengetahuan filsafat kita sebut paradigma logis, metodenya disebut metode rasional yang mengandalkan pemikiran akal. Cara kerja metode ini sulit dijelaskan, yang dapat dikatakan ialah "mencari kebenaran tentang sesuatu dengan cara memikirkannyasecara,logis".
Pengetahuan mistik adalah jenis pengetahuan yang ketiga, yakni segala pengetahuan yang diperoleh lewat hati, diperoleh dengan cara melatih hati agar dapat merasakan, menangkap pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh akal dikepala. Pengetahuan jenis ini objeknya diluarlogika,yaitu
:supralogis.

2. pengetahuan agama
bila agama adalah wahyu tuhan, maka Al-qur'an itu isinya ada yang dapat dipahami secara sains, ada yang dapat dipahami secara filsafat, dan kebanyakan dapat dipahami secara mistik. dilihat dari segi lain seluruh ayat Al-qur'an harus diterima dengan yakin, berarti semuanya masuk pengetahuan mistik. Jadi Al-qur'an itu isinya ada yang sains, logis, dan mistik.
Diatas itu ialah satu cara membagi pengetahuan manusia. Ada lagi cara membagi yang lain, yaitu:
1) pengetahuan yang diwahyukan, yaitu pengetahuan yang diterima, ini adalah pembagian menurutislam.
2) Pengetahuan yang diperoleh, maksud diperoleh ialah dicari sendiri oleh manusia.
Yang dimaksud dengan pengetahuan agama atau ilmu agama ialah penegtahuan yang diwahyukan, yaitu penegtahuan tentang Al-qur'an dan hadits serta semua pengetahuan tentang isinya yang biasanya dikembangkan dalam tradisi islam. Menurut islam, pengetahuan tidak ada segi baiknya bila tidak menunjukkan kepada hakikat pertama alam ini ialah Allah.


B.     Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan islam tidak lah selalu paten di sepanjang perjalanan periode islam. Pada abad pertama Hijriyah tujuan pendidikan islam berbeda dengan tujuan pendidikan pada abad ke-4, oleh karena itu kita lihat bahwa tujuan dan sasaran pendidikan islam itu meengalami perkembangan pada abad-abad berikut nya. Pada hakikat nya tujuan pendidikan islam itu selamanya bersumber dari aliran rasionalisme dan keagamaan, yang di ikuti para pendidik muslim. Akibatnya pendirian atau pandangan mereka serta tujuan-tujuan pendidikan yang mereka ikuti dalam pengajaran dan pendidikan saing berbeda menurut aliran paham mereka.[2]
Tujuan pendidikan islam dibagi kepada dua macam tujuan yang prinsipial, yaitu:
1.      Tujuan keagamaan
      Yang dimaksud tujuan keagamaan ini adalah bahwa stiap pribadi orang muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap tuhan nya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunat dan yang fardhu bagi seorang mukallaf.
Tujuan ini menurut pandangan pendidikan islam dan para pendidik muslim mengandung esensi yang amat penting kaitannya dengan pembinaan kepribadian individual; diibaratkan sebagai anggota masyarakat yang harus hidup didalamnya dengan dengan banyak berbuat dan bekerja untuk membina sebuah gedung yang kokohdan kuat. Di sini Nampak jelas tentang pentingnya tujuan pendidikan ini, karena sebenarnya agama itu sendiri mempunyai hubungan erat dengan berbagai aspek pendidikan kejiawaan dan pendidikan kebudayaan secara ilmiah dan falsaiyah. Maka dari itu agama mengarah kan tujuan nya kepada pencapaian makrifat tentang kebenran yang haq, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.
Disamping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas yakni suatu petunjuk jalan yan yang benar di,mana tiap pribadi muslim mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia berjalan secara manusiawi.
Dengan demikian Agama sebenarnya memberikan topic-topik pembahsan , diantaranya yang paling esensial ialah pembahasan dari sdut falsafah, misalnya agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita jalan-jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tentang kehidupan kita di dunia dan di akhirat, filsafat juga berusaha menganalisis problem-problemnya.
Jika kita mendalami makna dari tujuan keagamaan pendidikan islam, maka kita jumpai bahwa tujuan itu menyingkapkan kepada kita sejauh mana kedekatan ilmu pengetahuan dengan agama. Kenyataan demikian memperkuat adanya bukti bahwa sesungguhnya agama kita mempergunakan ilmu pengetahuandalam ketetapan-ketetapan dan keputusannya, yang mengajak kepada penemuan kenyataan yang benar guna memuaskan akal fikiran (ratio).
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi sebagai berikut:
* `yJsùr& ÞOn=÷ètƒ !$yJ¯Rr& tAÌ“Ré& y7ø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ‘,ptø:$# ô`yJx. uqèd #‘yJôãr& 4 $oÿ©VÎ) ㍩.x‹tGtƒ (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÈ
Artinya:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”,(Ar-ra’du.19).

2.      Tujuan Keduniaan
      Tujaun ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang di arahkan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis), atau untuk untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Tujuan ini memperkuat oleh aliran pragmatism yang dipelopori oleh ahli filsafat Jhon Dewey dan Wiiam Kilpatrick. Para ahli filsafat pendidikan pragmatism lebih mengarah kan pendidikan anak kepada gerakan amaliah (ketrampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan.[3]  

            Pendidikan adalah satu-satunya rute ke mobilitas social yang ada di dalam nya Mengenai Eropa Barat,konteks demokratis liberal. Pendidikan juga dikondisikan oleh isu kelas,
efek sekolah, pendidikan orang tua dan isu bermasyarakat lebih luas yang di/terpengaruh oleh
globalisasi dan internationalisasi tenaga kerja dan [modal/ibukota], [yang] yakni
peran pasar pekerja. Di dalam negara yang mayoritas orang islam, pendidikan yang menderita            penyakit akut dinilai kurang, jenis kelamin ketidaksamaan dan ketiadaan suatu sosial sesuai
infrastruktur untuk mendukung intelektual, moral, pengembangan budaya dan etis[4].

Adapun saat ini dan zaman tekhnologis, tujuan ini mengambil kebijakan baru, yang lebih menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat di dalam setiap peristiwa kehidupan, dan juga memakai strategi pendidikan seumur hidup (life long education).
Sedangkan pendidikan islam melihat tujuan pendidikan ini dari aspek dan pandangan baru yaitu berdasarkan Al-quranulkarim, yang sangat memusatkan perhatian kepada pengalaman dimana seluruh kegiatan hidup umat manusia harus bertumpu padanya. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an selalu berkaitan antara iman dengan amal perbuatan yang salah, sebagai landasan yang kokoh dalam mengarungi kehidupan manusia.
      Dalam hubungan ini Allah berfirman sebagai berikut:
È@è%ur (#qè=yJôã$# “uŽz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qß™u‘ur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcr–ŠuŽäIy™ur 4’n<Î) ÉOÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ  
Artinya:
dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(At-taubah: 105)

Dan firman nya lagi:
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  
Artinya:
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.(Al-jum’at:10)

        Struktur pendidikan islam di bangun diatas landasan yang kokoh, yang menggunakan kedua tujuan kagamaan dan keduniaan. Dengan demikian, terdapat perbedaan besar antara tujuan-tujuan pendidikan dari umat-umat terdahulu dengan masa kini. Misalnya bangsa china dahulu mengutamakan pada pencapaian tujuan pendidikan yang mempersiapkan anak didik untuk hidup bekerja sama dalam tugas-tugas besar.

C.    Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif)
Ada dua bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari kalangan ahli pendidikan islam di Indonesia. Bentuk-bentuk itu sudah hampir pasti mendukung usaha pendidikan islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu mempengaruhi orang untuk beragama islam atau meningkatkan keislaman seseorang. Bentuk-bentuk yang di maksud adalah Pesantren kilat dan perguruan silat tenaga dalam.[5]

1.      Pesantren Kilat
Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang islam di Indonesia. Itu adalah nama lembaga pendidikan islam yang paling tua di Indonesia. Pada embaga pesantren biasanya ada kiai, ada santri, ada kegiatan membaca kitab kuning, ada pomdokan santri, dan ada masjid. Itulah kira-kira “syarat” untuk untuk disebut pesantren. Pesantren kilat itu apa?
Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di departemen agama pusat mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren gontor bia dating saat libur sekolah. Di sana mereka mondok dan belajar agam,ya, selama libur tersebut. Itulah mungkin asal-usul pesantren kilat. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota bandung banyak sekali orang yang menylenggarakan pesantren kilat.
Apa yang mendorong suburnya pesantren kilat? Dari berbgai penelitian kecil dapat diketahui motif orang tua memasukan anak nya ke pesantren kilat.
·         Agar anaknya tidak nakal
·         Motif mengisi waktu selama libur sekolah dengan mengikuti kegiatan positif
·         Menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah

2.      Perguruan Silat Tenaga Dalam
Apa yang di maksud dengan perguruan silat tenaga dalam? Belum banyak penlitian yang dilakukan untuk mengungkapkan apa sebenarnya tenaga dalam dan seberapa jauh ia dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama islam. Oleh karena itu, disini belum banyak hal yang dapat dilaporkan. Sekalipun demikian , ada konsep-konsep kecil yang dapat dijelaskan alakadarnya, sesuai dengan pengertian yang dapat di tangkap dari eberapa penelitian yang dilakukan.
Secara gampang tenaga dalam adalah tenagaghaib. Disini kata “tenaga” itu mempunyai arti yang cukup luas, lebih luas dari pada pengertian dari tenaga yang dikenal dalam fisika. Tenaga dalam agaknya tidak akan dapat dipahami dengan akal saja: tenaga dalam terutama di fahami dengan cara “mengalami nya”. Pada silat tenaga dalam, tenaga dalam itu kelihatan dalam rupa seseorang dijatuh kan dari jauh, yaitu yang menjatuhkan tidak menyentuh orang yang dijatuhkannya. Akan tetapi, agaknya itu hanyalah saah satu bentuk (jenis) tenaga dalam. Kemampuan supranatural seperti pada permainan debus kelihatannya termasuk kedalam rumpun tenaga dalam. Sihir, guna-guna, pellet, dan sejenisnya, termasuk jampi-jampi dan doa, dapat digolongkan sebagai tenaga dalam.



D.    Pendidik/Guru Dalam Pendidikan Islam
Dalam konteks pendidikan Islam “pendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Kelima istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Murabbi adalah: orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya sertamenjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
Mu’addib adalah: orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.
Mudarris adalah: orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat , minat dan kemampuannya.
Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.

Definisi Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Sebagaimana teori Barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).
Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab member pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
Pendidik pertama dan utama adalah orangtua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kusuksesan orangtua juga. Firman Allah SWT.
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
“. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-tahrim:6)
Pendidik disini adalah mereka yang memberikan pelajaran peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah. orangtua sebagai pendidik pertama Dan utama terhadap anak-anaknya, tidak selamanya memiliki waktu yang leluasa dalam mendidik anak-anaknya. Selain karena kesibukan kerja, tingkat efektifitas dan efisiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Oleh karena itu, anak lazimnya dimasukkan ke dalam lembaga sekolah. Penyerahan peserta didik ke lembaga sekolah bukan berarti melepaskan tanggung jawab orangtua sebagai pendidik yang pertama dan utama, tetapi orangtua tetap mempunyai saham yang besar dalam membina dan mendidik anak kandungnya.
Syarat sah Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Syaikh Ahmad Ar Rifai mengungkapkan, bahwa seseorang bisa dianggap sah untuk dijadikan sebagai pendidik dalam pendidikan Islam apabila memenuhi dua criteria berikut :
1. Alim yaitu mengetahui betul tentang segala ajaran dan syariahnya Nabi Muhammad,Saw, sehingga ia akan mampu mentransformasikan ilmu yang komprehenshiv tidak setengah-setengah.
2.  Adil riwayat yaitu tidak pernah mengerjakan satupun dosa besar dan mengekalkan dosa kecil, seorang pendidik tidak boleh fasik sebab pendidik tidak hanya bertugas mentransformasikan ilmu kepada anak dididiknya namun juga pendidik harus mampu menjadi contoh dan suri tauladan bagi seluruh peserta didiknya. Di khawatirkan ketika seorang pendidik adalah orang fasik atau orang bodoh, maka bukan hidayah yang diterima ank didik namun justru pemahaman-pemahaman yang keliru yang berujung pada kesesatan
Kedudukan Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Pendidik adalah spiritual father (bapak rohani), bagi peserta didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu, pendidik memiliki kedudukan tinggi. Dalam beberapa Hadits disebutkan: “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar atau pendengar atau pecinta, dan Janganlah engkau menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak”. Dalam Hadits Nabi SAW yang lain: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebi berharga ketimbang darah para syuhada”. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang Rasul. Al-Syawki bersyair:
“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.
Al-Ghazali menukil beberapa Hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun (perhatikan QS. At-Taubah:122).selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak)kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.
Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam paradigma Jawa , pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.
Sesungguhnya seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan atau mentrasfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi pendidik juga bertanggungjawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan perencanaan. Oleh karena itu, fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.  Sebagai instruksional (pengajar), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan.
2.  Sebagai educator (pendidik), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.
3.   Sebagai managerial (pemimpin), yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.
Dalam tugas itu, seorang pendidik dituntut untuk mempunyai seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu dapat berupa:
1. Kegairahan dan kesediaan untuk mengajar seperti memerhatikan: kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik.
2.     Membangkitkan gairah peserta didik
3.     Menumbuhkan bakat dan sikap peserta didik yang baik
4.     Mengatur proses belajar mengajar yang baik
5. Memerhatikan perubahan-perubahankecendrungan yang mempengaruhi proses    mengajar
6.     Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.




E.     Pendidikan Dalam Rumah Tangga
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keuarga.
            Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan pendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Ituasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergauan dan hubungan pengaruh secara timbal balik antara orang tua dan anak.[6]
            Mengingat penting nya hidup keluarga yang demikian , maka islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan hidup kecil saja, melainkan lebih dari itu, yakni sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk hidup celaka atau bahagia dunia dan akhirat. Pertama-tama Allah memerintah kan kepada nabi Muhammad dalam mengembangkan agama islam adalah untuk mengajarkan agama itu kepada keluarganya, baru kemudian kepada masyarakat luas. Hal ituberarti didalamnya terkandung makna bahwa keselamatan keluarga harus lebih dahulu mendapat perhatian atau harus didahulukan ketimbang keselamatan masyarakat. Karena keselamatan masyarakat hakikatnya bertumpu pada keselamatan keluarga.[7]
Firman Allah :

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±tã šúüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ  
Artinya:
“dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (asy-syuruara’:214)
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, Rosulullah bersabda. “Tiada seorang bayipun  yang lahir melainkan ia dilahirkan diatas fithrah. Lalu kedua orang tua nyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi atau nasrani: seperti binatang itu melahirkan binatang yang sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan? Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah :
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Allah telah memerintahkanorang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong  mereka untuk itu dan memikul tanggung jawab kepada mereka.[8]
Allah berfirman :
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-tahrim : 6)
            Tanggung jawab pendidikan islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:
Ø  Memelihara dan membesarkan anak. Ini adalah entuk yang paling sederhana dari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
Ø  Melindungi dan menjamin keselamatan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai ganguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupandaru tujuan yang sesuai dengan filsafat hidup dan agama yang dianutnya.
Ø  Memberi pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapai nya.
Ø  Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

F.     Jurnal Asing Yang Berkaitan
Islam and
Education
MAJOR THEMES IN EDUCATION
Edited and with a new introduction by Dr Tahir Abbas,
Associate Professor of Sociology at Fatih University, Istanbul
The study of Islam and Muslim minorities has shifted in recent years from
being mainly an academic fringe interest to a central concern of governments,
with issues of theology, migration, development, identity, and economic and
political ideology all important considerations in understanding the essential
issues impacting on Muslims and the nature of Muslim-non-Muslim relations.

Education is often the only route to social mobility in Western European
liberal democratic contexts. Education is also conditioned by issues of class, the
effects of schools, the education of parents and wider societal issues affected by
globalisation and the internationalisation of capital and labour, namely the
role of labour markets. In Muslim majority lands, education suffers from acute
under-investment, gender inequality and the lack of an appropriate social
infrastructure to support intellectual, moral, ethical and cultural development.
Classical Islamic education is explored, analysing the impact of the classical
Islamic period in history and the developments in education which have
emanated from it. With focuses on education in Muslim Asia, Africa and the
Middle East, capturing the essential issues in each of the countries studied, and
how they vary across a vast region, the impact of culture and modernisation on
traditional societies as well as the ways in which westernised modes of
education are introduced, and the aspirations of youth are in turn determined.
The education of Muslims in North America and Europe, minorities in
advanced liberal secular democratic nation-states, are also studied, where
matters of identity, culture, gender, social class, the effects of educational
institutions and the wider societal context in which these social forces are
played are all important.
Fully indexed and with a comprehensive introduction newly written by the
editor, Islam and Education is an essential work of reference that is destined to
be valued by scholars and students—as well as policy-makers and
practitioners—as a vital one-stop research resource.
Routledge Major Works
Routledge
November 2010
234x156: 1,600pp
Set Hb: 978-0-415-47845-8












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat di simpulkan bahwa pendidikan dalam perspektif islam meliputi berbagai aspek yang pertama tentang konsep pengetahuan dalam islam baik dari segi umum maupun agama,  tentang tujuan pendidikan islam, meliputi tujuan keagamaan dan juga tujuan keduniaan.
Tentang Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia yang mana disitu terdapat sistem alternatif dalam pengembangan belajar tentang islam dengan mengikuti kegiatan seperti pesantren kilat dan juga perguruan silat tenaga dalam yang berbasiskan keislaman.
Pendidik/ Guru dalam pendidikan islam sangat besar pengaruhnya dalam pengembangan seorang peserta didik tentang pengetahuan baru yang mungkin tidak didapati di rumah, tetapi pendidik yang pertama dan utama tentunya adalah keluarga atau orang tua karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
B.     Saran
Kita sebagai calon guru pendidikan agama islam harus lah lebih kreativ atau seperti yang pernah saya dengar dari dosen saya “kita harus lebih berkeringat”, sebab berhasil atau tidaknya pendidikan agama banyak ditentukan oleh kita nantinya sebagai calon guru agama walaupun peran orang tua peserta didik tidak dapat di kesampingkan.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Aljumbulati, Ali dan Abdul futuh At-Tuwaanisi. Perbandingan Perbandingan islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
Daradjat, Zakiah dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Suwaid, Muhammad. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah, 2003.


[1] DR.Ahmad Tafsir,Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya,1992) hlm:8
[2] Ai Al-jumbulati,Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam.(Jakarta: Rineka Cipta, 2004) hlm: 36
[3] Ibid. hal: 38
[4] Jurnal by Tahir Abbas, November 2010

[5] Ahmad tafsir, Op.Cit, hlm:120
[6] Dr.Zakiah daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm:35
[7] Ibid, hlm: 36
[8] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak bersama Nabi,(Solo, Pustaka Arafah : 2003) hlm : 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar