BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang “pendidikan dalam
perspektif islam”, meliputi konsep pengetahuan dalam islam,baik pengetahuan umum dan pengetahuan agama,
tujuan pendidikan islam, baik dari tujuan keagamaan maupun tujuan keduniaan, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di
Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
B. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang saya bahas dalam makalah ini adalah tentang
pendidikan dalam perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan
pendidikan islam, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem
alternatif), Pendidik/Guru
dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Makalah ini saya susun adalah
untuk:
1. Sebagai
sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tentang pendidikan dalam
perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan pendidikan islam,
Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan
Dalam Rumah Tangga.
2.
Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat makalah tentang
pendidikan islam yang actual dan factual.
D. Metode
Penulisan
Metode penulisan yang saya pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan library research yaitu metode yang menggunakan buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang saya buat sebagai bahan utama dan sebagai penunjang mengguankan internet dalam pembuatan makalah ini.
Metode penulisan yang saya pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan library research yaitu metode yang menggunakan buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang saya buat sebagai bahan utama dan sebagai penunjang mengguankan internet dalam pembuatan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Pengetahuan dalam Islam
Menurut
Al-quran, semua pengetahuan datang dari Allah. Konferensi internasional tentang
Pendidikan islam tahun 1980 membuat rekomendasi sebagai berikut ini (King Abdul
Aziz University). Semua pengetahuan datang dari Allah. Sebagian di wahyukan
kepada orang yang di pilih nya dan sebagian lagi diperoleh manusia dengan
menggunakan indera, akal, dan hatainya. Pengetahuan yang di wahyukan mempunyai
kebenaran yang absolute sedangkan pengetahuan yang diperoleh, kebenaran nya
tidak mutlak.[1]
Pengetahuan
adalah semua yang diketahui 1 ini tentu bukanlah definisi pengetahuan,tetapi
itu sudah lumayan untuk menjelaskan apa pengetahuan itu. Dalam pembicaraan
sehari-hari sering kali dengar dengan istilah pengetahuan umum dan pengetahuan agama.
1.Pengetahuan umum
Pengetahuan sains adalah jenis pengetahuan manusia yang pertama.dalam bahasa indonesia yang pertama,pengetahuan ini disebut ilmu. Orang indonesia menyebut "sains" dengan"ilmu pengetahuan". Dalam bentuknya yang baku (hingga kini)pengetahuan sains mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya ialah paradigma sains,metodenya disebut metode Lanjutan pengetahuan sains yakni pengetahuan jenis kedua yang disebut dengan pengetahuan filsafat. Paradigma untuk pengetahuan filsafat kita sebut paradigma logis, metodenya disebut metode rasional yang mengandalkan pemikiran akal. Cara kerja metode ini sulit dijelaskan, yang dapat dikatakan ialah "mencari kebenaran tentang sesuatu dengan cara memikirkannyasecara,logis".
Pengetahuan mistik adalah jenis pengetahuan yang ketiga, yakni segala pengetahuan yang diperoleh lewat hati, diperoleh dengan cara melatih hati agar dapat merasakan, menangkap pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh akal dikepala. Pengetahuan jenis ini objeknya diluarlogika,yaitu:supralogis.
2. pengetahuan agama
bila
agama adalah wahyu tuhan, maka Al-qur'an itu isinya ada yang dapat dipahami
secara sains, ada yang dapat dipahami secara filsafat, dan kebanyakan dapat
dipahami secara mistik. dilihat dari segi lain seluruh ayat Al-qur'an harus
diterima dengan yakin, berarti semuanya masuk pengetahuan mistik. Jadi
Al-qur'an itu isinya ada yang sains, logis, dan mistik.
Diatas itu ialah satu cara membagi pengetahuan manusia. Ada lagi cara membagi yang lain, yaitu:
1) pengetahuan yang diwahyukan, yaitu pengetahuan yang diterima, ini adalah pembagian menurutislam.
2) Pengetahuan yang diperoleh, maksud diperoleh ialah dicari sendiri oleh manusia.
Yang dimaksud dengan pengetahuan agama atau ilmu agama ialah penegtahuan yang diwahyukan, yaitu penegtahuan tentang Al-qur'an dan hadits serta semua pengetahuan tentang isinya yang biasanya dikembangkan dalam tradisi islam. Menurut islam, pengetahuan tidak ada segi baiknya bila tidak menunjukkan kepada hakikat pertama alam ini ialah Allah.
Diatas itu ialah satu cara membagi pengetahuan manusia. Ada lagi cara membagi yang lain, yaitu:
1) pengetahuan yang diwahyukan, yaitu pengetahuan yang diterima, ini adalah pembagian menurutislam.
2) Pengetahuan yang diperoleh, maksud diperoleh ialah dicari sendiri oleh manusia.
Yang dimaksud dengan pengetahuan agama atau ilmu agama ialah penegtahuan yang diwahyukan, yaitu penegtahuan tentang Al-qur'an dan hadits serta semua pengetahuan tentang isinya yang biasanya dikembangkan dalam tradisi islam. Menurut islam, pengetahuan tidak ada segi baiknya bila tidak menunjukkan kepada hakikat pertama alam ini ialah Allah.
B.
Tujuan
Pendidikan Islam
Tujuan
pendidikan islam tidak lah selalu paten di sepanjang perjalanan periode islam.
Pada abad pertama Hijriyah tujuan pendidikan islam berbeda dengan tujuan
pendidikan pada abad ke-4,
oleh karena itu kita lihat bahwa tujuan dan sasaran pendidikan islam itu
meengalami perkembangan pada abad-abad berikut nya. Pada hakikat nya tujuan
pendidikan islam itu selamanya bersumber dari aliran rasionalisme dan
keagamaan, yang di ikuti para pendidik muslim. Akibatnya pendirian atau
pandangan mereka serta tujuan-tujuan pendidikan yang mereka ikuti dalam
pengajaran dan pendidikan saing berbeda menurut aliran paham mereka.[2]
Tujuan pendidikan
islam dibagi kepada dua macam tujuan yang prinsipial, yaitu:
1.
Tujuan
keagamaan
Yang
dimaksud tujuan keagamaan ini adalah bahwa stiap pribadi orang muslim beramal
untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan
dikembangkan dari ajaran-ajaran islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan
mempertemukan diri pribadi terhadap tuhan nya melalui kitab-kitab suci yang
menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunat dan yang fardhu bagi seorang
mukallaf.
Tujuan ini menurut pandangan pendidikan islam dan para pendidik muslim
mengandung esensi yang amat penting kaitannya dengan pembinaan kepribadian
individual; diibaratkan sebagai anggota masyarakat yang harus hidup didalamnya
dengan dengan banyak berbuat dan bekerja untuk membina sebuah gedung yang
kokohdan kuat. Di sini Nampak jelas tentang pentingnya tujuan pendidikan ini,
karena sebenarnya agama itu sendiri mempunyai hubungan erat dengan berbagai
aspek pendidikan kejiawaan dan pendidikan kebudayaan secara ilmiah dan
falsaiyah. Maka dari itu agama mengarah kan tujuan nya kepada pencapaian
makrifat tentang kebenran yang haq, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.
Disamping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas
yakni suatu petunjuk jalan yan yang benar di,mana tiap pribadi muslim
mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia
berjalan secara manusiawi.
Dengan demikian Agama sebenarnya memberikan topic-topik pembahsan ,
diantaranya yang paling esensial ialah pembahasan dari sdut falsafah, misalnya
agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam
semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita
jalan-jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tentang
kehidupan kita di dunia dan di akhirat, filsafat juga berusaha menganalisis
problem-problemnya.
Jika kita mendalami makna dari tujuan keagamaan pendidikan islam, maka
kita jumpai bahwa tujuan itu menyingkapkan kepada kita sejauh mana kedekatan
ilmu pengetahuan dengan agama. Kenyataan demikian memperkuat adanya bukti bahwa
sesungguhnya agama kita mempergunakan ilmu pengetahuandalam ketetapan-ketetapan
dan keputusannya, yang mengajak kepada penemuan kenyataan yang benar guna
memuaskan akal fikiran (ratio).
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi sebagai berikut:
*
`yJsùr& ÞOn=÷èt
!$yJ¯Rr&
tAÌRé& y7øs9Î)
`ÏB y7Îi/¢ ,ptø:$#
ô`yJx.
uqèd
#yJôãr&
4 $oÿ©VÎ) ã©.xtGt
(#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÈ
Artinya:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang
berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”,(Ar-ra’du.19).
2.
Tujuan
Keduniaan
Tujaun
ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang di
arahkan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis), atau untuk untuk
mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Tujuan ini memperkuat oleh
aliran pragmatism yang dipelopori oleh ahli filsafat Jhon Dewey dan Wiiam
Kilpatrick. Para ahli filsafat pendidikan pragmatism lebih mengarah kan
pendidikan anak kepada gerakan amaliah (ketrampilan) yang bermanfaat dalam
pendidikan.[3]
Pendidikan
adalah satu-satunya rute ke mobilitas social yang ada di dalam nya Mengenai
Eropa Barat,konteks
demokratis liberal. Pendidikan juga dikondisikan oleh isu kelas,
efek sekolah, pendidikan orang tua dan isu bermasyarakat lebih
luas yang di/terpengaruh oleh
globalisasi dan internationalisasi tenaga kerja dan
[modal/ibukota], [yang] yakni
peran pasar pekerja. Di dalam negara yang mayoritas orang islam, pendidikan yang menderita penyakit akut dinilai kurang, jenis kelamin ketidaksamaan dan ketiadaan suatu
sosial sesuai
infrastruktur untuk mendukung intelektual, moral, pengembangan
budaya dan etis[4].
Adapun saat
ini dan zaman tekhnologis, tujuan ini mengambil kebijakan baru, yang lebih
menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat di dalam setiap peristiwa kehidupan,
dan juga memakai strategi pendidikan seumur hidup (life long education).
Sedangkan pendidikan islam melihat tujuan
pendidikan ini dari aspek dan pandangan baru yaitu berdasarkan Al-quranulkarim,
yang sangat memusatkan perhatian kepada pengalaman dimana seluruh kegiatan
hidup umat manusia harus bertumpu padanya. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an
selalu berkaitan antara iman dengan amal perbuatan yang salah, sebagai landasan
yang kokoh dalam mengarungi kehidupan manusia.
Dalam
hubungan ini Allah berfirman sebagai berikut:
È@è%ur
(#qè=yJôã$# uz|¡sù ª!$#
ö/ä3n=uHxå
¼ã&è!qßuur
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( cruäIyur
4n<Î)
ÉOÎ=»tã É=øtóø9$#
Íoy»pk¤¶9$#ur
/ä3ã¥Îm7t^ãsù
$yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ
Artinya:
dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(At-taubah: 105)
Dan firman nya lagi:
#sÎ*sù ÏMuÅÒè%
äo4qn=¢Á9$# (#rãϱtFR$$sù
Îû ÇÚöF{$#
(#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù
«!$#
(#rãä.ø$#ur ©!$#
#ZÏWx.
ö/ä3¯=yè©9
tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ
Artinya:
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi;
dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung”.(Al-jum’at:10)
Struktur pendidikan islam di bangun diatas landasan yang kokoh, yang
menggunakan kedua tujuan kagamaan dan keduniaan. Dengan demikian, terdapat
perbedaan besar antara tujuan-tujuan pendidikan dari umat-umat terdahulu dengan
masa kini. Misalnya bangsa china dahulu mengutamakan pada pencapaian tujuan
pendidikan yang mempersiapkan anak didik untuk hidup bekerja sama dalam
tugas-tugas besar.
C.
Bentuk Baru
Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif)
Ada dua
bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari
kalangan ahli pendidikan islam di Indonesia. Bentuk-bentuk itu sudah hampir
pasti mendukung usaha pendidikan islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu
mempengaruhi orang untuk beragama islam atau meningkatkan keislaman seseorang.
Bentuk-bentuk yang di maksud adalah Pesantren kilat dan perguruan silat tenaga
dalam.[5]
1.
Pesantren
Kilat
Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang islam di Indonesia. Itu
adalah nama lembaga pendidikan islam yang paling tua di Indonesia. Pada embaga
pesantren biasanya ada kiai, ada santri, ada kegiatan membaca kitab kuning, ada
pomdokan santri, dan ada masjid. Itulah kira-kira “syarat” untuk untuk disebut
pesantren. Pesantren kilat itu apa?
Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di departemen agama pusat
mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren gontor bia dating saat libur sekolah.
Di sana mereka mondok dan belajar agam,ya, selama libur tersebut. Itulah
mungkin asal-usul pesantren kilat. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota
bandung banyak sekali orang yang menylenggarakan pesantren kilat.
Apa yang mendorong suburnya pesantren kilat? Dari berbgai penelitian
kecil dapat diketahui motif orang tua memasukan anak nya ke pesantren kilat.
·
Agar anaknya tidak nakal
·
Motif mengisi waktu selama libur sekolah dengan
mengikuti kegiatan positif
·
Menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah
2.
Perguruan
Silat Tenaga Dalam
Apa yang di maksud dengan perguruan silat tenaga dalam? Belum banyak
penlitian yang dilakukan untuk mengungkapkan apa sebenarnya tenaga dalam dan
seberapa jauh ia dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama islam. Oleh
karena itu, disini belum banyak hal yang dapat dilaporkan. Sekalipun demikian ,
ada konsep-konsep kecil yang dapat dijelaskan alakadarnya, sesuai dengan
pengertian yang dapat di tangkap dari eberapa penelitian yang dilakukan.
Secara gampang tenaga dalam adalah tenagaghaib. Disini kata “tenaga” itu
mempunyai arti yang cukup luas, lebih luas dari pada pengertian dari tenaga
yang dikenal dalam fisika. Tenaga dalam agaknya tidak akan dapat dipahami
dengan akal saja: tenaga dalam terutama di fahami dengan cara “mengalami nya”.
Pada silat tenaga dalam, tenaga dalam itu kelihatan dalam rupa seseorang
dijatuh kan dari jauh, yaitu yang menjatuhkan tidak menyentuh orang yang
dijatuhkannya. Akan tetapi, agaknya itu hanyalah saah satu bentuk (jenis)
tenaga dalam. Kemampuan supranatural seperti pada permainan debus kelihatannya
termasuk kedalam rumpun tenaga dalam. Sihir, guna-guna, pellet, dan sejenisnya,
termasuk jampi-jampi dan doa, dapat digolongkan sebagai tenaga dalam.
D.
Pendidik/Guru
Dalam Pendidikan Islam
Dalam konteks pendidikan Islam “pendidik” sering disebut
dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan
yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Kelima istilah ini mempunyai
tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Murabbi adalah: orang yang mendidik dan
menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan
memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya,
masyarakat dan alam sekitarnya.
Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu
dan mampu mengembangkannya sertamenjelaskan fungsinya dalam kehidupan,
menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer
ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
Mu’addib adalah: orang yang mampu menyiapkan
peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas
di masa depan.
Mudarris adalah: orang yang memiliki kepekaan
intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya
secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas
kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat , minat dan
kemampuannya.
Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi
model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan
dan konsultan bagi peserta didiknya.
Definisi Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Sebagaimana teori Barat, pendidik dalam Islam adalah
orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya
dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif
(rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).
Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab
member pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan
rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi
tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan
khalifah Allah SWT. Dan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk social dan
sebagai makhluk individu yang mandiri.
Pendidik pertama dan utama adalah orangtua sendiri. Mereka
berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya,
karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan
pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kusuksesan
orangtua juga. Firman Allah SWT.
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
“. Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-tahrim:6)
Pendidik disini adalah mereka yang memberikan pelajaran
peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah. orangtua sebagai pendidik pertama Dan utama terhadap
anak-anaknya, tidak selamanya memiliki waktu yang leluasa dalam mendidik
anak-anaknya. Selain karena kesibukan kerja, tingkat efektifitas dan efisiensi
pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Oleh
karena itu, anak lazimnya dimasukkan ke dalam lembaga sekolah. Penyerahan
peserta didik ke lembaga sekolah bukan berarti melepaskan tanggung jawab
orangtua sebagai pendidik yang pertama dan utama, tetapi orangtua tetap mempunyai
saham yang besar dalam membina dan mendidik anak kandungnya.
Syarat sah Pendidik Dalam Pendidikan
Islam:
Syaikh Ahmad Ar Rifai mengungkapkan, bahwa seseorang bisa
dianggap sah untuk dijadikan sebagai pendidik dalam pendidikan Islam apabila
memenuhi dua criteria berikut :
1. Alim
yaitu mengetahui betul tentang segala ajaran dan syariahnya Nabi Muhammad,Saw,
sehingga ia akan mampu mentransformasikan ilmu yang komprehenshiv tidak
setengah-setengah.
2. Adil riwayat yaitu tidak pernah
mengerjakan satupun dosa besar dan mengekalkan dosa kecil, seorang pendidik
tidak boleh fasik sebab pendidik tidak hanya bertugas mentransformasikan ilmu
kepada anak dididiknya namun juga pendidik harus mampu menjadi contoh dan suri
tauladan bagi seluruh peserta didiknya. Di khawatirkan ketika seorang pendidik
adalah orang fasik atau orang bodoh, maka bukan hidayah yang diterima ank didik
namun justru pemahaman-pemahaman yang keliru yang berujung pada kesesatan
Kedudukan Pendidik Dalam Pendidikan
Islam:
Pendidik adalah spiritual father (bapak rohani), bagi
peserta didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak
mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu, pendidik
memiliki kedudukan tinggi. Dalam beberapa Hadits disebutkan: “Jadilah engkau
sebagai guru, atau pelajar atau pendengar atau pecinta, dan Janganlah engkau
menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak”. Dalam Hadits Nabi
SAW yang lain: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebi berharga
ketimbang darah para syuhada”. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat
dengan derajat seorang Rasul. Al-Syawki bersyair:
“Berdiri dan hormatilah guru dan
berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.
Al-Ghazali menukil beberapa Hadits Nabi tentang keutamaan seorang
pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar
yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun (perhatikan QS.
At-Taubah:122).selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang
menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup
semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia
tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah
upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun
binatang jinak)kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.
Tugas Pendidik Dalam Pendidikan
Islam:
Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah
menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya
untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam paradigma Jawa , pendidik diidentikan dengan (gu dan
ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena
guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki
wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru
(di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala
tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta
didiknya.
Sesungguhnya seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan
atau mentrasfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi
pendidik juga bertanggungjawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan
perencanaan. Oleh karena itu, fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan dapat
disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Sebagai instruksional (pengajar),
yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang
telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program
dilakukan.
2. Sebagai educator (pendidik), yang
mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring
dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.
3. Sebagai managerial (pemimpin), yang
memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang
terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan,
pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program
pendidikan yang dilakukan.
Dalam tugas itu, seorang pendidik dituntut untuk mempunyai
seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu dapat berupa:
1. Kegairahan
dan kesediaan untuk mengajar seperti memerhatikan: kesediaan, kemampuan,
pertumbuhan dan perbedaan peserta didik.
2. Membangkitkan gairah peserta didik
3. Menumbuhkan bakat dan sikap peserta
didik yang baik
4. Mengatur proses belajar mengajar
yang baik
5. Memerhatikan
perubahan-perubahankecendrungan yang mempengaruhi proses mengajar
6. Adanya hubungan manusiawi dalam
proses belajar mengajar.
E.
Pendidikan
Dalam Rumah Tangga
Orang tua
adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah
anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan
terdapat dalam kehidupan keuarga.
Pada
umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran
dan pengertian yang lahir dari pengetahuan pendidik, melainkan karena secara kodrati
suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi
pendidikan. Ituasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergauan dan hubungan
pengaruh secara timbal balik antara orang tua dan anak.[6]
Mengingat
penting nya hidup keluarga yang demikian , maka islam memandang keluarga bukan
hanya sebagai persekutuan hidup kecil saja, melainkan lebih dari itu, yakni
sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk
hidup celaka atau bahagia dunia dan akhirat. Pertama-tama Allah memerintah kan
kepada nabi Muhammad dalam mengembangkan agama islam adalah untuk mengajarkan
agama itu kepada keluarganya, baru kemudian kepada masyarakat luas. Hal
ituberarti didalamnya terkandung makna bahwa keselamatan keluarga harus lebih
dahulu mendapat perhatian atau harus didahulukan ketimbang keselamatan
masyarakat. Karena keselamatan masyarakat hakikatnya bertumpu pada keselamatan
keluarga.[7]
Firman Allah :
öÉRr&ur y7s?uϱtã úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ
Artinya:
“dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (asy-syuruara’:214)
Bukhari
meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, Rosulullah bersabda. “Tiada seorang
bayipun yang lahir melainkan ia
dilahirkan diatas fithrah. Lalu kedua orang tua nyalah yang menjadikannya
Yahudi, atau Majusi atau nasrani: seperti binatang itu melahirkan binatang yang
sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan? Kemudian Abu
Hurairah membaca firman Allah :
óOÏ%r'sù
y7ygô_ur
ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym
4 |NtôÜÏù
«!$#
ÓÉL©9$# tsÜsù
}¨$¨Z9$#
$pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9
«!$#
4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r&
Ĩ$¨Z9$#
w
tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artinya :
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Fitrah Allah:
Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama
Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu
tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh
lingkungan.
Allah telah
memerintahkanorang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong mereka untuk itu dan memikul tanggung jawab
kepada mereka.[8]
Allah berfirman :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä
(#þqè%
ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR
$ydßqè%ur
â¨$¨Z9$#
äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB
ÔâxÏî
×#yÏ© w
tbqÝÁ÷èt ©!$#
!$tB
öNèdttBr&
tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-tahrim : 6)
Tanggung
jawab pendidikan islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus
dilaksanakan dalam rangka:
Ø Memelihara
dan membesarkan anak. Ini adalah entuk yang paling sederhana dari tanggung
jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan
kelangsungan hidup manusia.
Ø Melindungi
dan menjamin keselamatan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai ganguan
penyakit dan dari penyelewengan kehidupandaru tujuan yang sesuai dengan
filsafat hidup dan agama yang dianutnya.
Ø Memberi
pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki
pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapai nya.
Ø Membahagiakan
anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup
muslim.
F.
Jurnal Asing
Yang Berkaitan
Islam and
Education
MAJOR THEMES IN
EDUCATION
Edited and with a new introduction by Dr Tahir
Abbas,
Associate
Professor of Sociology at Fatih University, Istanbul
The
study of Islam and Muslim minorities has shifted in recent years from
being
mainly an academic fringe interest to a central concern of governments,
with
issues of theology, migration, development, identity, and economic and
political
ideology all important considerations in understanding the essential
issues
impacting on Muslims and the nature of Muslim-non-Muslim relations.
Education is often the only route to social mobility
in Western European
liberal
democratic contexts. Education is also conditioned by issues of class, the
effects
of schools, the education of parents and wider societal issues affected by
globalisation
and the internationalisation of capital and labour, namely the
role
of labour markets. In Muslim majority lands, education suffers from acute
under-investment,
gender inequality and the lack of an appropriate social
infrastructure
to support intellectual, moral, ethical and cultural development.
Classical Islamic education is explored, analysing
the impact of the classical
Islamic
period in history and the developments in education which have
emanated
from it. With focuses on education in Muslim Asia, Africa and the
Middle
East, capturing the essential issues in each of the countries studied, and
how
they vary across a vast region, the impact of culture and modernisation on
traditional
societies as well as the ways in which westernised modes of
education
are introduced, and the aspirations of youth are in turn determined.
The education of Muslims in North America and
Europe, minorities in
advanced
liberal secular democratic nation-states, are also studied, where
matters
of identity, culture, gender, social class, the effects of educational
institutions
and the wider societal context in which these social forces are
played
are all important.
Fully indexed and with a comprehensive introduction
newly written by the
editor,
Islam and Education is an essential work of reference that is destined
to
be
valued by scholars and students—as well as policy-makers and
practitioners—as
a vital one-stop research resource.
Routledge
Major Works
Routledge
November
2010
234x156:
1,600pp
Set
Hb: 978-0-415-47845-8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat di simpulkan
bahwa pendidikan dalam perspektif islam meliputi berbagai aspek yang pertama
tentang konsep pengetahuan dalam islam baik dari segi umum maupun agama, tentang tujuan pendidikan islam, meliputi
tujuan keagamaan dan juga tujuan keduniaan.
Tentang Bentuk Baru Sistem
Pendidikan Islam di Indonesia yang
mana disitu terdapat sistem alternatif dalam pengembangan belajar tentang islam
dengan mengikuti kegiatan seperti pesantren kilat dan juga perguruan silat
tenaga dalam yang berbasiskan keislaman.
Pendidik/ Guru dalam pendidikan islam
sangat besar pengaruhnya dalam pengembangan seorang peserta didik tentang
pengetahuan baru yang mungkin tidak didapati di rumah, tetapi pendidik yang
pertama dan utama tentunya adalah keluarga atau orang tua karena dari
merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama
dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
B. Saran
Kita sebagai calon guru pendidikan agama
islam harus lah lebih kreativ atau seperti yang pernah saya dengar dari dosen
saya “kita harus lebih berkeringat”, sebab berhasil atau tidaknya
pendidikan agama banyak ditentukan oleh kita nantinya sebagai calon guru agama walaupun peran orang tua peserta didik tidak
dapat di kesampingkan.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya,
1992.
Aljumbulati, Ali dan Abdul futuh
At-Tuwaanisi. Perbandingan Perbandingan
islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
Daradjat, Zakiah dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Suwaid, Muhammad. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah, 2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar