BAB I
PENDAHULUAN
Interaksi
akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Dalam proses
komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan
dan komunikator. Hubungan antara
komunikator dengan komunikan biasanya karena menginteraksikan sesuatu, yang
dikenal dengan istilah pesan (message)
kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan pesan itu diperlukan adanya media atau (channel). Jadi unsure-unsur yang terlibat dalam komunikasi adalah
:komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga hubungan
antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, empat unsur untuk
terrjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.
BAB II
PEMBAHASAN
Interaksi Dalam Pembelajaran
Yang Edukatif
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam
suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih
spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar
mengajar.interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan
interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan
warga belajar ( siswa, anak didik, subjek belajar ) yang sedang melaksanakan
kegiatan belajar dipihak lain.
Relitas
manusia sebagai makhluk sosial, ia memilki sifat sosial yang besar. Maka di butuhkan
suatu proses interaksi, proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan suatu
system” dari berbagai ragam proses interaksi itu terdapat jenis situasi khusus
yaitu situasi pengajaran atau situasi instruksional. Interaksi yang terjadi
dalam situasi pengajaran disebut interaksi pengajaran/interaksi intruksional,
yaitu suatu proses yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran (tujuan
yang telah ditentukan/dan telah disistematikan secara terarah)[1].
Interaksi
pengajaran yang berbeda/terikat oleh situasi dan tujuan pendidikan disebut
interaksi pengajaran yang edukatif, atau cukup disebut dengan “interaksi
edukatif”. Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti
menjadi milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan, pikiran-pikiran,
keterampilan, dan nilai. Interaksi edukatif adalah proses interaksi yang
disengaja, sadar tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ketingkat
kedewasaannya[2].
Dalam
interaksi mengajar-belajar terjadi proses pengaruh-mempengaruhi bukan hanya
guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempengaruhi guru.
Perilaku guru akan berbeda, apabila menghadapi kelas yang aktif dengan yang
pasif, kelas yang berdisiplin dengan yang kurang disiplin. Interaksi ini bukan
hanya terjadi kepada siswa dengan guru, tetapi antara siswa dengan manusia
sumber (yaitu orang yang bisa member informasi), antara siswa dengan siswa lain,
dan dengan media pelajaran. Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa,
tanpa siswa dalam kelas maka guru tidak bisa mengajar. Lain hal nya dengan
kegiatan belajar, siswa dapat belajar meskipun tanpa kehadiran guru. Para siwa
dapat melakukan kegiata belajar sendiri. Sebenarnya dalam kegiatan belajar sendiri
ini gurunya tetap ada, akan tetapi tidak hadir bersama siswa[3].
A.
UNSUR
NORMATIF dan TEKNIS
Dalam setiap bentuk
interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, unsur normatif
dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai pendidik) dan
peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama pengajaran PMP
misalnya guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai palsafah hidup
bangsa Indonesia. Demikian pun dalam pengajaran agama, guru dan peserta didik
harus meyakini bersama tentang agama yang sama.
Pengajaran sebagai
bagian dari pendidikan, sedangkan pendidikan itu sifatnya normatif Maka dalam
proses pengajaran mesti mencerminkan interaksi yang bersumber pada
sumber-sumber norma agama, falsafah hidup (pancasila). Penjelesan selanjutnya
mengenai hal ini merupakan bidang garapan teori dan filsafat pendidikan [4].
Setiap aktifitas
pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis. Suatu contoh, bagaimana
upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang
Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU No. 2/1989 tentang sistem Pendidikan
Nasional, BAB II, Pasal 4). Tujuan ini direalisasikan secara teknis yakni,
dengan mengembankan pada studi bidang studi yang dipelajari peserta didik.
Dalam rangka ini harus didukung oleh semua faktor edukatif : tujuan, bahan,
guru, dan peserta didik, metode, dan situasi.
Interaksi belajar
mengajar yang terjadi secara langsung didalam kelas,mungkin diteruskan diluar
kelas atau diluar sekolah,dalam bentuk interaksi secara tidak langsung. Guru
dapat memberikan berbagai bentuk penugasan agar para siswa juga melakukan
berbagai aktivitas belajar di luar sekolah. Kegiatan belajar sendiri diluar
kelas, berfungsi, memantafkan, memperdalam dan memperluas bahan ajaran yang
diberikan guru didalam kelas/sekolah. Seringkali para siswa tidak cukup memadai
penguasaannya apabila hanya belajar didalam kelas atau sekolah, tetapi perlu
dimantapkan/diperkaya dengan belajar sendiri diluar sekolah/dirumah.
Interaksi guru dengan
siswa bukan hanya dalam penguasaan bahan ajaran, tetapi juga dalam penerimaan
nilai-nilai, pengembangan sikap serta dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang
dihadapi oleh siswa. Dengan demikian peran guru juga bukan hanya sebagai
pengajar dan pelatih, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing [5].
B.
GAMBARAN
INTERAKSI EDUKATIF
Dikisahkan,
seorang guru dalam pelajaran sejarah sedang membahas peristiwa-peristiwa yang
terjadi selama Perang Dunia II. Dengan rinci dan mendalam guru itu menjelaskan
berbagai kerugian kemerosotan, dan lain-lain bentuk negatif yang timbul sebagai
akibat adanya peperangan. Untuk membuktikan atau memperkuat ulasan-ulasan itu,
guru mengutif berbagai peristiwa beberapa perjanjian internasional, dan lain-lain
data sejarah yang dianggap relevan. Pada akhir pelajaran sejarah yang memakan
waktu Sembilan puluh menit guru menyimpulkan agar setiap peserta didik cinta
perdamaian dan mengutuk peperangan karena “setiap peperangan akan membawa
kerugian material dan spiritual bagi dunia, baik pada mereka yang kalah, maupun
pada mereka yang menang, dan juga malahan pada mereka yang secara tidak
langsung ikut terlibat.”
Pada
minggu berikutnya ketika pelajaran tiba lagi, guru itu memutuskan untuk
mengetahui lebih dahulu pelajaran yang lalu sebelum mulai dengan palajaran yang
lalu sebelum mulai pelajaran baru. Cara yang ditempuhnya ialah dengan memajukan
pertanyaan secara lisan, yang ditunjukan pada seluruh peserta didik dikelas.
Pertanyaannya adalah :
Kamu
tentunya masih ingat minggu lalu bahwa saya menjelaskan peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam perang dunia kedua, dan bahwa pelajaran yang dapat kita
tarik dari peristiwa itu adalah bahwa kita harus memben….(guru berhanti
sejenak) membenci peperangan bukan ?
Bagus. Sekarang adakah diantara kamu yang dapat menerangkan dengan jelas
alasan mengapa kita harus demikian?
Terhadap
pernyataan itu,seorang peserta didik segera menaikan tangan kemudian
berdiri,dan berkata dengan suara yang tegas : “saya tidak suka peperangan, sebab
setiap peperangan hanya menambah banyak nya bahan sejarah yang harus
dipelajari,sedangkan saya tidak suka pelajaran…sejarah ! “
Tidak
diharapkan bahwa ilustrasi diatas betul-betul terjadi sebab alangkah besarnya
kegagalan interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik itu. Interaksi
tersebut gagal karna tidak ada bahasa yang sama antara guru dan peserta didik
yang mengakibatkan terjadinya komunikasi yang saling surut dan yang dengan
sendirinya,tidak membawa mereka pada tujuan interaksi. Tujuan guru tidak
tercapai sebagaimana yang diharapkan,walaupun mungkin kisah tersebut dituturkan
lebih sebagai uraian didaktis dari pada sebagai laporan yang actual,didalam
kenyataan sehari-hari sebenarnya tidak sedikit peristiwa yang benar-benar
menunjukkan interaksi yang serupa dengan ilustrasi tersebut diatas.
Pelajaran
sejarah tersebut dan agaknya banyak terjadi pada pelajaran sejarah tidak
membawa pelajaran pada kemampuan menganalisis peristiwa dunia dan negaranya
secara historis. Pelajaran tidak berhasil tiba pada tarap kemampuan untuk
melihat dan berpikir secara historis.pengetahuan sejarah mereka terhenti pada dan
terbelenggu oleh sekumpulan data, fakta dan nama-nama orang. Penyelidikan di
bidang metodik pengajaran sejarah banyak memberikan petunjuk bahwa data sejarah
yang diharuskan untuk dipelajari adalah data yang bukan saja terlepas dari akar
kehidupan,tetapi juga terlepas dari ikatan satu sama lain. Akibatnya,sudah enam
tahun “didik” sejarah,satu-satunya yang tertancap didalam ingatan peserta didik
ialah “guru sejarah yang sedemikian membosankan”. Tidak mengherankan kalau
dikatakan bahwa pendidikan sejarah serupa itu adalah pendidikan yang tepat
untuk membenci sejarah,membenci guru sejarah,membenci segala sesuatu yang
bersangkut paud dengan sejarah. Inilah satu contoh dimana interaksi yang
maksudkan bersifat edukatif justru berakibat destruktif [6].
Menurut
falsafahnya setiap orang akan mengiyakan bahwa mengetahui sesuatu belum berarti
berbuat menurut yang diketahui, Malahan Rousseau pemikir Prancis yang murtat
itu pernah mengatakan “dengarlah yang dikatakan, jangan melihat perbuatan ku.”
Menurut kenyataan tidak jarang kita jumpai bentuk-bentuk interaksi yang
terbatas hanya pada pemberian pengetahuan, padahal interaksi itu dilakukan
dengan maksud untuk membawa perubahan dalam bentuk tingkah laku peserta didik.
Misalnya saja pendidikan agama, pelajaran diberi keterangan-keterangan mengenai
agama, katakanlah agama Islam. Hasil pelajaran itu adalah terkumpulnya
sejumblah pengetahuan tentang seluk beluk agama Islam. Pendidikan atau
disempitkan dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar
tujuan, dengan sistimatis terarah pada perubahan tingkah laku, menuju
kedewasaanpeserta didik. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu proses
yang harus dilalui. Tanpa proses perubahan itu tak dapat dicapai, dan proses
yang dimaksud disini adalah proses pendidikan.
Proses
pendidikan berlangsung tidak tanpa alas an atau tujuan pengajaran merupakan
proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni
membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus
dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup
kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Bila ditinjau
secara luas akan jelas tampak bahwa manusia selalu berubah dan perubahan itu
merupakan hasil belajar. Hanya soalnya, tidak semua peristiwa belajar itu
berlangsung secara sadar dan terarah. Menyadari bahwa perubahan yang tak
disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan
tingkah laku yang berada diluar titik tujuan perlulah perkembangan itu
diarahkan. Setidak-tidaknya sebagian dari kehidupan itu perlu dibimbing secara
sistematis. Disilah saatnya muncul gambaran guru. Disinilah guru dibutuhkan. Ia
dibutuhkan untuk member bekal hidup yang berguna. Ia harus dapat memberikan
pendidikan secara didaktis. Tegasnya ia harus menciptakan situasi dan interaksi
edukati.
Tidak
cukup bagi seorang guru untuk semata-mata memperhatikan bahan atau ilmu
pengetahuan yang akan diajarkan padanya, misalnya seorang instruktur militer
mendalami ilmu perang, seorang insinyur mendalami konstruksi bangunan, seorang
ahli ekonomi mendalami ilmu ekonomi. Mereka itu semua harus mengetahui juga
segi-segi didaktik dan metodik pengajaran ilmu tersebut. Tidak dengan
sendirinyaseorang poenari dapat menjadi guru tari; seorang ahli hukum, seorang
ahli ilmu falak, seorang sastrawan, belumlah dengan sendirinya dapat
mengajarkan kepandaiannya [7].
C.
FAKTOR-FAKTOR
INTERAKSI
Faktor-faktor
yang mendasari terjadinya interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
·
Faktor tujuan
·
Faktor bahan/materi/isi
·
Faktor guru dan peserta didik
·
Faktor metode
·
Faktor situasi
Sebagaimana
diketahui bahwa proses pengajaran pada hakikatnya merupakan rangkaian
Kegiatan
komunikasi antar subjek didik guru dan peserta didik. Komunikasi antar dua
subjek ini dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya; tujuan, bahan, guru dan
peserta didik, metode dan situasi, dan sebagainya. Namun penulis memandang
bahwa kelima factor yang akan dijabarkan berikut ini merupakan faktor pokok dan
penting untuk mendukung terjadinya peristiwa pengajaran yang dalamnya akan
muncul suatu bentuk interaksi pengajaran yang edukatif sifatnya.
1.
Faktor
Tujuan
Terdapat
beberapa istilah tujuan, baik yang bersifat umum maupun khusus, baik yang
bersifat akhir maupun terminal/intermedier/sementara.
Ada
istilah aims dikonotasikan sebagai tujuan yang paling umum bersifat luas dan
paling akhir. Aims sebagai suatu statemen umum yang memberikan gambaran dan
arah yang akan dituju, ia menjadi pangkal tolak, ide/inspirasi dan pengarahan.
Rumusan aims meliputi didalamnya 3 unsur pokok.
§ Pertanyaan
umum mengenai nilai
§ Keamanan
usaha diarahkan
§ Saran
penyesuaian jika terdapat hal lain yang berubah.
John Dewey
menyarankan, jika suatu aims dirumuskan maka ada tiga hal yang mesti
diperhatikan
a. Faktor
relevan dengan situasi
b. Bersifat
tentative, artinya harus fleksibel dan dapat di ubah sesuai perkembangan
kebutuhan
c. Hendaknya
meningkatkan aktivitas-aktivitas
Goals,
sebuah istilah yang lebih nyata dan sering disebut tujuan umum. Goals merupakan penjelasan yang lebih
rinci yang berpijak dari dasar pemikiran utama aims. Dalam menetapkan rumusan
tujuan khusus, maka kita berhubungan dengan dua hal yaitu “kesesuaian” dan
“kegunaan” istilah “kesesuaian” menunjukan bahwa tujuan khusus mesti sesuai
dengan keadaan dan masalah yang dihadapi. Sesuai pula dengan apa yang
dikehendaki oleh tujuan yang ada di atas yaitu tujuan umum goals.
Tujuan
pendidikan/pengajaran yang bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada
tiga jenis :
a. Tujuan
kognitif, tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan
b. Tujuan
efektif, tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai, dan
alasan
c. Tujuan
psikomotorik, tujuan yang berkaitan dengan keterampilann menggunakan telinga,
tangan, mata, alat indra, dan sebagainya.
Tiga
syarat utama untuk terwujudnya interaksi pengajaran yang edukatif, adalah[8].
Ø Merumusakan
tujuan, menyempitkan lapangan tujuan umum ke dalam bentuk yang tampak pada
tingkah laku peserta didik;
Ø Mengkhususkan
tujuan;
Ø Memfungsional
tujuan, bahwa tujuan yang diharapkan nyata berguna bagi perkembangan peserta
didik.
2.
Faktor
Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan
bahan oleh guru seyogyanya mengarah pada spesifik/ takhasus atas ilmu kecakapan
yang diajarkanya. Mengingat isi, sifat, dan luasnya ilmu , maka guru harus
mampu menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa-apa yang akan di ajarkanya
kedalam bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan. Penyusunan unsure-unsur
atau informasi-informasi yang baik itu bukan saja untuk mempermudah peserta
didik untuk mempelajarinya, melainkan juga memberikan gambaran yang jelas
sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran.
Isi bahan pengajaran itu luas sekali dan
berbeda dalam tinggi rendah serta sukar mudahnya. Macamnya pun banyak.
Karenanya , sebelum menentukan bahan study pengajaran yang akan di pelajari
oleh peserta didik perlu di adakan pilihan terlebih dahulu. Pilihan itu
biasanya berdasarkan pada pedoman –pedoman tertentu agar keseluruhan bahan yang
telah di tentukan itu teratur dan mencerminkan suatu hal yang integral bagi
hidup peserta didik selama di sekolah sekarang, dan sesudahnya. Yang menentukan
pedoman tersebut ialah pihak Depdikbud.isi pedoman yang di maksud adalah di
sekitar kesesuaian bahan pengajaran dengan tujuan institusional, tujuan
kurukulum, tujuan pengajaran, serta tujuan pendidikan pada umumnya dan haluan
Negara . selain itu , bahan pengajaran pula harus disesuaikan dengan tingkatan
jenjang pendidikan, tahap perkembangan jiwa dan jasmani peserta didik serta kebutuhan-kebutuhan
yang ada pada mereka.
3.
Faktor
Guru Dan Peserta Didik
Guru dan peserta didik adalah dua subjek
dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk
penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik sebagai pihak yang secara
langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa belajar mengajar yang
terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah di
tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju pada arah tujuan
melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber
belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta didik)
menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status yang
penting.
Kemudian untuk menjadikan perofesionaltas
kerja guru setidaknya ia memiliki 4 bidang utama.
a. Guru
harus mengenal setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya
b. Guru
harus memiliki kecakapan member bimbingan, sebab mengajar hakekatnya
membimbing.
c. Guru
harus memiliki dasar penetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan /
pengajaran
d. Guru
harus memiliki pengetahuan bulat dan baru mengenai ilmu yang di ajrkan.
Dalam rangka menemban tugas
profesionalitas kepengajaranya oleh siti meichati, M.A, didasarkan agar” guru
memberikan perhatian dan kesenangan kepada peserta didik untuk belajar dan
mendorong mereka untuk berfikir, punya rasa simpati, jujur,adil, bersedia
menyesuaikan diri dan memperhatikan orang lain ( peserta didik) menguasai
bidangnya,”
Peran guru adalah ganda, disamping ia
sebagai pengajar adalah sekaligus sebagai pendidik. Dengan demikian dalam waktu
yang bersamaan ia harus mengemban 2 tugas utama yaitu mengajar dan mendidik.
Keduanya sulit untuk dipisahkan salah satunya, sebagai keeping satu mata uang.
Sebagai contoh setelah guru menerangkan banyaknya pulau kita( bangsa Indonesia)
memiliki, kekayaan dan kesuburan alam di Indonesia ( segi mengajar) guru wawib
berusaha mnginsakan peserta didik bahwa negara
lain banyak yang ingin menguasainya dan mengobarkan ( membangkitkan)
semangat peserta didik untuk membela tanah air inn=donesia sekaligus mengsyukur
ats hal itu. Juga mengarahkan mereka untuk menjalin rasa persatuan dan kesatuan
antar sesame warga/ bangsa indonesia , (segi mendidik)
Secara garis besar persyaratan kepribadian
guru dapat disimpulkan menjadi 3 kompetensi( kemampuan)
-
Kompetensi indifidual
-
Kompetensi social
-
Kompetensi professional
4.
Faktor
Metode
Metode adalah suatu
kata kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai
satu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaianya .
Tetapi tidak ada satu metode pun yang di katakana paling baik/
dipergunakan bagi semua
macam usaha pencapaian tujuan, baik tidaknya , tepat tidaknya satu metode di
pengaruhi oleh berbagai factor. Faktor utama yang menentukan metode adalah
tujuan yang akan dicapai.
Metode mengajar/pengajaran, selain ditentukan/dipengaruhi oleh
tujuan juga oleh factor kesesuaian dengan bahan, kemampuan guru untuk
menggunakannya, keadaan peserta didik, dan situasi yang melingkupinya. Dengan
kata lain, penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki:
Ø Relevansi
dengan tujuan
Ø Relevansi
dengan bahan
Ø Relevansi
dengan kemampuan guru
Ø Relevansi
dengan keadaan peserta didik
Ø Relevansi
dengan situasi pengajaran.
Secara
umum metode-metode pengajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua:
a. Metode
pengajaran individual
b. Metode
pengajaran kelompok/klasikal.
Adapun
macam-macam metode itu sesungguhnya tidak terbatas banyaknya sekadar mengenal
sebagian metode, dibawah ini penulis sebutkan sebagian dari banyak metode.
Ø Metode
ceramah/persentasi/kuliah mimbar
Ø Metode
diskusi (dengan segala jenisnya)
Ø Metode
Tanya jawab
Ø Metode
resitasi/penugasan
Ø Metode
experiment
Ø Metode
proyek
Ø Metode
karya wisata
Ø Metode-metode
lainnya.
5.
Faktor
Situasi
Yang dimaksud situasi
adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian
ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan
kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu
karena penggunaan suatu metode.
Diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan, dan
ada yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Pada umumnya dlam menetapkan
suatu metode, selalu metode yang dianggap terbaik dan diperkirakan memenuhi
saegala perhitungan yang digunakan, sedangkan factor situasi kurang
dipertimbangkan. Hal ini seharusnya tak sebaiknya terjadi.
Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan, kita (guru) dapat
menyediakan alternative metode-metode mengajar dengan mengingat kemungkina-kemungkinan
perubahan situasi. Situasi pengajaran yang kondusif (mendukung) sangat
menentukan dan bahkan menjadi salah satu indicator terciptanya interaksi
pengajaran, yang edukatif sifatnya.
Terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan yang
disebabkan oleh perubahan secara tiba-tiba diperlukan kecekatan untuk mengambil
keputusan dengan segera mengenai cara-cara/metode-metode yang akan digunakan.
Ketrampilan berimprovisasi dan kesigapan mengambil keputusan sungguh sangat
diperlukan dalam situasi demikian. Kita tidak boleh tertegun atau terhenti
sehingga tidak ada usaha sedikitpun untuk melaksanakan program dalam rangka
mencapai tujuan, karena bukan saja akan merusak seluruh rencana pengembangan
program melainkan juga merusak perkembangan peserta didik itu sendiri.
\
BAB III
KESIMPULAN
Suatu
interaksi dikatakan memilki sifat edukatif bukan semata ditentukan oleh
bentuknya melainkan oleh tujnuan interaksi itu sendiri. Maka setiap bentuk
hubungan bersama antara guru dan peserta didik tidak selalu berlangsung secara
edukatif. Sudah tentu tujuan interaksi harus bersifat edukatif pula, sedang
pencapaiyannya dilaksanakan dalam proses belajar mengajar (pengajaran).
Dalam
setiap bentuk interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok,
unsur normatif dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai
pendidik) dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Proses
pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan atau tujuan pengajaran merupakan
proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni
membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang
harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup
kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.
Daftar Pustaka
Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd, Pengelolaan Pengajaran, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004
Sadirman A.M, Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010
R.Ibrohim, Nana Syaohidih S, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar