Rabu, 11 April 2012

Interaksi Dalam Pembelajaran Yang Edukatif


BAB I
PENDAHULUAN
Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message) kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan pesan itu diperlukan adanya media atau (channel). Jadi unsure-unsur yang terlibat dalam komunikasi adalah :komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, empat unsur untuk terrjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.



BAB II
PEMBAHASAN
Interaksi Dalam Pembelajaran Yang Edukatif
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.interaksi belajar mengajar mengandung  suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa, anak didik, subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.
Relitas manusia sebagai makhluk sosial, ia memilki sifat sosial yang besar. Maka di butuhkan suatu proses interaksi, proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan suatu system” dari berbagai ragam proses interaksi itu terdapat jenis situasi khusus yaitu situasi pengajaran atau situasi instruksional. Interaksi yang terjadi dalam situasi pengajaran disebut interaksi pengajaran/interaksi intruksional, yaitu suatu proses yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran (tujuan yang telah ditentukan/dan telah disistematikan secara terarah)[1].
Interaksi pengajaran yang berbeda/terikat oleh situasi dan tujuan pendidikan disebut interaksi pengajaran yang edukatif, atau cukup disebut dengan “interaksi edukatif”. Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti menjadi milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan, pikiran-pikiran, keterampilan, dan nilai. Interaksi edukatif adalah proses interaksi yang disengaja, sadar tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaannya[2].
Dalam interaksi mengajar-belajar terjadi proses pengaruh-mempengaruhi bukan hanya guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda, apabila menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, kelas yang berdisiplin dengan yang kurang disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi kepada siswa dengan guru, tetapi antara siswa dengan manusia sumber (yaitu orang yang bisa member informasi), antara siswa dengan siswa lain, dan dengan media pelajaran. Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa, tanpa siswa dalam kelas maka guru tidak bisa mengajar. Lain hal nya dengan kegiatan belajar, siswa dapat belajar meskipun tanpa kehadiran guru. Para siwa dapat melakukan kegiata belajar sendiri. Sebenarnya dalam kegiatan belajar sendiri ini gurunya tetap ada, akan tetapi tidak hadir bersama siswa[3].
A.    UNSUR NORMATIF dan TEKNIS

Dalam setiap bentuk interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, unsur normatif dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai pendidik) dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama pengajaran PMP misalnya guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai palsafah hidup bangsa Indonesia. Demikian pun dalam pengajaran agama, guru dan peserta didik harus meyakini bersama tentang agama yang sama.
Pengajaran sebagai bagian dari pendidikan, sedangkan pendidikan itu sifatnya normatif Maka dalam proses pengajaran mesti mencerminkan interaksi yang bersumber pada sumber-sumber norma agama, falsafah hidup (pancasila). Penjelesan selanjutnya mengenai hal ini merupakan bidang garapan teori dan filsafat pendidikan [4].
Setiap aktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis. Suatu contoh, bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU No. 2/1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, BAB II, Pasal 4). Tujuan ini direalisasikan secara teknis yakni, dengan mengembankan pada studi bidang studi yang dipelajari peserta didik. Dalam rangka ini harus didukung oleh semua faktor edukatif : tujuan, bahan, guru, dan peserta didik, metode, dan situasi.
Interaksi belajar mengajar yang terjadi secara langsung didalam kelas,mungkin diteruskan diluar kelas atau diluar sekolah,dalam bentuk interaksi secara tidak langsung. Guru dapat memberikan berbagai bentuk penugasan agar para siswa juga melakukan berbagai aktivitas belajar di luar sekolah. Kegiatan belajar sendiri diluar kelas, berfungsi, memantafkan, memperdalam dan memperluas bahan ajaran yang diberikan guru didalam kelas/sekolah. Seringkali para siswa tidak cukup memadai penguasaannya apabila hanya belajar didalam kelas atau sekolah, tetapi perlu dimantapkan/diperkaya dengan belajar sendiri diluar sekolah/dirumah.
Interaksi guru dengan siswa bukan hanya dalam penguasaan bahan ajaran, tetapi juga dalam penerimaan nilai-nilai, pengembangan sikap serta dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Dengan demikian peran guru juga bukan hanya sebagai pengajar dan pelatih, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing [5].

B.     GAMBARAN INTERAKSI EDUKATIF
Dikisahkan, seorang guru dalam pelajaran sejarah sedang membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi selama Perang Dunia II. Dengan rinci dan mendalam guru itu menjelaskan berbagai kerugian kemerosotan, dan lain-lain bentuk negatif yang timbul sebagai akibat adanya peperangan. Untuk membuktikan atau memperkuat ulasan-ulasan itu, guru mengutif berbagai peristiwa beberapa perjanjian internasional, dan lain-lain data sejarah yang dianggap relevan. Pada akhir pelajaran sejarah yang memakan waktu Sembilan puluh menit guru menyimpulkan agar setiap peserta didik cinta perdamaian dan mengutuk peperangan karena “setiap peperangan akan membawa kerugian material dan spiritual bagi dunia, baik pada mereka yang kalah, maupun pada mereka yang menang, dan juga malahan pada mereka yang secara tidak langsung ikut terlibat.”
Pada minggu berikutnya ketika pelajaran tiba lagi, guru itu memutuskan untuk mengetahui lebih dahulu pelajaran yang lalu sebelum mulai dengan palajaran yang lalu sebelum mulai pelajaran baru. Cara yang ditempuhnya ialah dengan memajukan pertanyaan secara lisan, yang ditunjukan pada seluruh peserta didik dikelas. Pertanyaannya adalah :  
Kamu tentunya masih ingat minggu lalu bahwa saya menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perang dunia kedua, dan bahwa pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa itu adalah bahwa kita harus memben….(guru berhanti sejenak) membenci peperangan bukan ?  Bagus. Sekarang adakah diantara kamu yang dapat menerangkan dengan jelas alasan mengapa kita harus demikian?
Terhadap pernyataan itu,seorang peserta didik segera menaikan tangan kemudian berdiri,dan berkata dengan suara yang tegas : “saya tidak suka peperangan, sebab setiap peperangan hanya menambah banyak nya bahan sejarah yang harus dipelajari,sedangkan saya tidak suka pelajaran…sejarah ! “
Tidak diharapkan bahwa ilustrasi diatas betul-betul terjadi sebab alangkah besarnya kegagalan interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik itu. Interaksi tersebut gagal karna tidak ada bahasa yang sama antara guru dan peserta didik yang mengakibatkan terjadinya komunikasi yang saling surut dan yang dengan sendirinya,tidak membawa mereka pada tujuan interaksi. Tujuan guru tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan,walaupun mungkin kisah tersebut dituturkan lebih sebagai uraian didaktis dari pada sebagai laporan yang actual,didalam kenyataan sehari-hari sebenarnya tidak sedikit peristiwa yang benar-benar menunjukkan interaksi yang serupa dengan ilustrasi tersebut diatas.
Pelajaran sejarah tersebut dan agaknya banyak terjadi pada pelajaran sejarah tidak membawa pelajaran pada kemampuan menganalisis peristiwa dunia dan negaranya secara historis. Pelajaran tidak berhasil tiba pada tarap kemampuan untuk melihat dan berpikir secara historis.pengetahuan sejarah mereka terhenti pada dan terbelenggu oleh sekumpulan data, fakta dan nama-nama orang. Penyelidikan di bidang metodik pengajaran sejarah banyak memberikan petunjuk bahwa data sejarah yang diharuskan untuk dipelajari adalah data yang bukan saja terlepas dari akar kehidupan,tetapi juga terlepas dari ikatan satu sama lain. Akibatnya,sudah enam tahun “didik” sejarah,satu-satunya yang tertancap didalam ingatan peserta didik ialah “guru sejarah yang sedemikian membosankan”. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa pendidikan sejarah serupa itu adalah pendidikan yang tepat untuk membenci sejarah,membenci guru sejarah,membenci segala sesuatu yang bersangkut paud dengan sejarah. Inilah satu contoh dimana interaksi yang maksudkan bersifat edukatif justru berakibat destruktif [6].
Menurut falsafahnya setiap orang akan mengiyakan bahwa mengetahui sesuatu belum berarti berbuat menurut yang diketahui, Malahan Rousseau pemikir Prancis yang murtat itu pernah mengatakan “dengarlah yang dikatakan, jangan melihat perbuatan ku.” Menurut kenyataan tidak jarang kita jumpai bentuk-bentuk interaksi yang terbatas hanya pada pemberian pengetahuan, padahal interaksi itu dilakukan dengan maksud untuk membawa perubahan dalam bentuk tingkah laku peserta didik. Misalnya saja pendidikan agama, pelajaran diberi keterangan-keterangan mengenai agama, katakanlah agama Islam. Hasil pelajaran itu adalah terkumpulnya sejumblah pengetahuan tentang seluk beluk agama Islam. Pendidikan atau disempitkan dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan, dengan sistimatis terarah pada perubahan tingkah laku, menuju kedewasaanpeserta didik. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses perubahan itu tak dapat dicapai, dan proses yang dimaksud disini adalah proses pendidikan.
Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alas an atau tujuan pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Bila ditinjau secara luas akan jelas tampak bahwa manusia selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar. Hanya soalnya, tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada diluar titik tujuan perlulah perkembangan itu diarahkan. Setidak-tidaknya sebagian dari kehidupan itu perlu dibimbing secara sistematis. Disilah saatnya muncul gambaran guru. Disinilah guru dibutuhkan. Ia dibutuhkan untuk member bekal hidup yang berguna. Ia harus dapat memberikan pendidikan secara didaktis. Tegasnya ia harus menciptakan situasi dan interaksi edukati.
Tidak cukup bagi seorang guru untuk semata-mata memperhatikan bahan atau ilmu pengetahuan yang akan diajarkan padanya, misalnya seorang instruktur militer mendalami ilmu perang, seorang insinyur mendalami konstruksi bangunan, seorang ahli ekonomi mendalami ilmu ekonomi. Mereka itu semua harus mengetahui juga segi-segi didaktik dan metodik pengajaran ilmu tersebut. Tidak dengan sendirinyaseorang poenari dapat menjadi guru tari; seorang ahli hukum, seorang ahli ilmu falak, seorang sastrawan, belumlah dengan sendirinya dapat mengajarkan kepandaiannya [7].
C.    FAKTOR-FAKTOR INTERAKSI

Faktor-faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
·         Faktor tujuan
·         Faktor bahan/materi/isi
·         Faktor guru dan peserta didik
·         Faktor metode
·         Faktor situasi
Sebagaimana diketahui bahwa proses pengajaran pada hakikatnya merupakan rangkaian
Kegiatan komunikasi antar subjek didik guru dan peserta didik. Komunikasi antar dua subjek ini dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya; tujuan, bahan, guru dan peserta didik, metode dan situasi, dan sebagainya. Namun penulis memandang bahwa kelima factor yang akan dijabarkan berikut ini merupakan faktor pokok dan penting untuk mendukung terjadinya peristiwa pengajaran yang dalamnya akan muncul suatu bentuk interaksi pengajaran yang edukatif sifatnya.
1.      Faktor Tujuan
Terdapat beberapa istilah tujuan, baik yang bersifat umum maupun khusus, baik yang bersifat akhir maupun terminal/intermedier/sementara.
Ada istilah aims dikonotasikan sebagai tujuan yang paling umum bersifat luas dan paling akhir. Aims sebagai suatu statemen umum yang memberikan gambaran dan arah yang akan dituju, ia menjadi pangkal tolak, ide/inspirasi dan pengarahan. Rumusan aims meliputi didalamnya 3 unsur pokok.
§  Pertanyaan umum mengenai nilai
§  Keamanan usaha diarahkan
§  Saran penyesuaian jika terdapat hal lain yang berubah.
John Dewey menyarankan, jika suatu aims dirumuskan maka ada tiga hal yang mesti diperhatikan

a.       Faktor relevan dengan situasi
b.      Bersifat tentative, artinya harus fleksibel dan dapat di ubah sesuai perkembangan kebutuhan
c.       Hendaknya meningkatkan aktivitas-aktivitas
Goals, sebuah istilah yang lebih nyata dan sering disebut tujuan umum. Goals merupakan penjelasan yang lebih rinci yang berpijak dari dasar pemikiran utama aims. Dalam menetapkan rumusan tujuan khusus, maka kita berhubungan dengan dua hal yaitu “kesesuaian” dan “kegunaan” istilah “kesesuaian” menunjukan bahwa tujuan khusus mesti sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi. Sesuai pula dengan apa yang dikehendaki oleh tujuan yang ada di atas yaitu tujuan umum goals.
Tujuan pendidikan/pengajaran yang bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis :
a.       Tujuan kognitif, tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan
b.      Tujuan efektif, tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai, dan alasan
c.       Tujuan psikomotorik, tujuan yang berkaitan dengan keterampilann menggunakan telinga, tangan, mata, alat indra, dan sebagainya.
Tiga syarat utama untuk terwujudnya interaksi pengajaran yang edukatif, adalah[8].
Ø  Merumusakan tujuan, menyempitkan lapangan tujuan umum ke dalam bentuk yang tampak pada tingkah laku peserta didik;
Ø  Mengkhususkan tujuan;
Ø  Memfungsional tujuan, bahwa tujuan yang diharapkan nyata berguna bagi perkembangan peserta didik.  

2.      Faktor Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan bahan oleh guru seyogyanya mengarah pada spesifik/ takhasus atas ilmu kecakapan yang diajarkanya. Mengingat isi, sifat, dan luasnya ilmu , maka guru harus mampu menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa-apa yang akan di ajarkanya kedalam bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan. Penyusunan unsure-unsur atau informasi-informasi yang baik itu bukan saja untuk mempermudah peserta didik untuk mempelajarinya, melainkan juga memberikan gambaran yang jelas sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran.
  Isi bahan pengajaran itu luas sekali dan berbeda dalam tinggi rendah serta sukar mudahnya. Macamnya pun banyak. Karenanya , sebelum menentukan bahan study pengajaran yang akan di pelajari oleh peserta didik perlu di adakan pilihan terlebih dahulu. Pilihan itu biasanya berdasarkan pada pedoman –pedoman tertentu agar keseluruhan bahan yang telah di tentukan itu teratur dan mencerminkan suatu hal yang integral bagi hidup peserta didik selama di sekolah sekarang, dan sesudahnya. Yang menentukan pedoman tersebut ialah pihak Depdikbud.isi pedoman yang di maksud adalah di sekitar kesesuaian bahan pengajaran dengan tujuan institusional, tujuan kurukulum, tujuan pengajaran, serta tujuan pendidikan pada umumnya dan haluan Negara . selain itu , bahan pengajaran pula harus disesuaikan dengan tingkatan jenjang pendidikan, tahap perkembangan jiwa dan jasmani peserta didik serta kebutuhan-kebutuhan yang ada pada mereka.
3.      Faktor Guru Dan Peserta Didik
    Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik sebagai pihak yang secara langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa belajar mengajar yang terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah di tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju pada arah tujuan melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta didik) menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status yang penting.
      Kemudian untuk menjadikan perofesionaltas kerja guru setidaknya ia memiliki 4 bidang utama.
a.       Guru harus mengenal setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya
b.      Guru harus memiliki kecakapan member bimbingan, sebab mengajar hakekatnya membimbing.
c.       Guru harus memiliki dasar penetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan / pengajaran
d.      Guru harus memiliki pengetahuan bulat dan baru mengenai ilmu yang di ajrkan.
     Dalam rangka menemban tugas profesionalitas kepengajaranya oleh siti meichati, M.A, didasarkan agar” guru memberikan perhatian dan kesenangan kepada peserta didik untuk belajar dan mendorong mereka untuk berfikir, punya rasa simpati, jujur,adil, bersedia menyesuaikan diri dan memperhatikan orang lain ( peserta didik) menguasai bidangnya,”
    Peran guru adalah ganda, disamping ia sebagai pengajar adalah sekaligus sebagai pendidik. Dengan demikian dalam waktu yang bersamaan ia harus mengemban 2 tugas utama yaitu mengajar dan mendidik. Keduanya sulit untuk dipisahkan salah satunya, sebagai keeping satu mata uang. Sebagai contoh setelah guru menerangkan banyaknya pulau kita( bangsa Indonesia) memiliki, kekayaan dan kesuburan alam di Indonesia ( segi mengajar) guru wawib berusaha mnginsakan peserta didik bahwa negara  lain banyak yang ingin menguasainya dan mengobarkan ( membangkitkan) semangat peserta didik untuk membela tanah air inn=donesia sekaligus mengsyukur ats hal itu. Juga mengarahkan mereka untuk menjalin rasa persatuan dan kesatuan antar sesame warga/ bangsa indonesia , (segi mendidik)
     Secara garis besar persyaratan kepribadian guru dapat disimpulkan menjadi 3 kompetensi( kemampuan)
-          Kompetensi indifidual
-          Kompetensi social
-          Kompetensi professional
4.      Faktor Metode
Metode adalah suatu kata kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai satu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaianya . Tetapi tidak ada satu metode pun yang di katakana paling baik/


dipergunakan bagi semua macam usaha pencapaian tujuan, baik tidaknya , tepat tidaknya satu metode di pengaruhi oleh berbagai factor. Faktor utama yang menentukan metode adalah tujuan yang akan dicapai.
      Metode mengajar/pengajaran, selain ditentukan/dipengaruhi oleh tujuan juga oleh factor kesesuaian dengan bahan, kemampuan guru untuk menggunakannya, keadaan peserta didik, dan situasi yang melingkupinya. Dengan kata lain, penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki:
Ø  Relevansi dengan tujuan
Ø  Relevansi dengan bahan
Ø  Relevansi dengan kemampuan guru
Ø  Relevansi dengan keadaan peserta didik
Ø  Relevansi dengan situasi pengajaran.
Secara umum metode-metode pengajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua:
a.       Metode pengajaran individual
b.      Metode pengajaran kelompok/klasikal.
      Adapun macam-macam metode itu sesungguhnya tidak terbatas banyaknya sekadar mengenal sebagian metode, dibawah ini penulis sebutkan sebagian dari banyak metode.
Ø  Metode ceramah/persentasi/kuliah mimbar
Ø  Metode diskusi (dengan segala jenisnya)
Ø  Metode Tanya jawab
Ø  Metode resitasi/penugasan
Ø  Metode experiment
Ø  Metode proyek
Ø  Metode karya wisata
Ø  Metode-metode lainnya.


5.      Faktor Situasi
Yang dimaksud situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu karena penggunaan suatu metode.
      Diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan, dan ada yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Pada umumnya dlam menetapkan suatu metode, selalu metode yang dianggap terbaik dan diperkirakan memenuhi saegala perhitungan yang digunakan, sedangkan factor situasi kurang dipertimbangkan. Hal ini seharusnya tak sebaiknya terjadi.
      Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan, kita (guru) dapat menyediakan alternative metode-metode mengajar dengan mengingat kemungkina-kemungkinan perubahan situasi. Situasi pengajaran yang kondusif (mendukung) sangat menentukan dan bahkan menjadi salah satu indicator terciptanya interaksi pengajaran, yang edukatif sifatnya.
      Terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan secara tiba-tiba diperlukan kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera mengenai cara-cara/metode-metode yang akan digunakan. Ketrampilan berimprovisasi dan kesigapan mengambil keputusan sungguh sangat diperlukan dalam situasi demikian. Kita tidak boleh tertegun atau terhenti sehingga tidak ada usaha sedikitpun untuk melaksanakan program dalam rangka mencapai tujuan, karena bukan saja akan merusak seluruh rencana pengembangan program melainkan juga merusak perkembangan peserta didik itu sendiri.
\


 

   

BAB III
KESIMPULAN
Suatu interaksi dikatakan memilki sifat edukatif bukan semata ditentukan oleh bentuknya melainkan oleh tujnuan interaksi itu sendiri. Maka setiap bentuk hubungan bersama antara guru dan peserta didik tidak selalu berlangsung secara edukatif. Sudah tentu tujuan interaksi harus bersifat edukatif pula, sedang pencapaiyannya dilaksanakan dalam proses belajar mengajar (pengajaran).
Dalam setiap bentuk interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, unsur normatif dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai pendidik) dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan atau tujuan pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.










Daftar  Pustaka

Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd, Pengelolaan Pengajaran, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004
Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010
R.Ibrohim, Nana Syaohidih S, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003         





       [1] Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd, Pengelolaan Pengajaran, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004. Hal 93
       [2] Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010. Hal 18
       [3] R.Ibrohim, Nana Syaohidih S, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003. Hal 31-32
       [4] Op.Cit  Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 94
       [5] Op.Cit R.Ibrohim, Nana Syaohidih S. Hal 34
       [6] Ibid, Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 96-97
       [7] Ibid, Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd  Hal 
       [8] Ibid Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 107

Tidak ada komentar:

Posting Komentar