Rabu, 11 April 2012

Interaksi Dalam Pembelajaran Yang Edukatif


BAB I
PENDAHULUAN
Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message) kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan pesan itu diperlukan adanya media atau (channel). Jadi unsure-unsur yang terlibat dalam komunikasi adalah :komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, empat unsur untuk terrjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.



BAB II
PEMBAHASAN
Interaksi Dalam Pembelajaran Yang Edukatif
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.interaksi belajar mengajar mengandung  suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa, anak didik, subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.
Relitas manusia sebagai makhluk sosial, ia memilki sifat sosial yang besar. Maka di butuhkan suatu proses interaksi, proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan suatu system” dari berbagai ragam proses interaksi itu terdapat jenis situasi khusus yaitu situasi pengajaran atau situasi instruksional. Interaksi yang terjadi dalam situasi pengajaran disebut interaksi pengajaran/interaksi intruksional, yaitu suatu proses yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran (tujuan yang telah ditentukan/dan telah disistematikan secara terarah)[1].
Interaksi pengajaran yang berbeda/terikat oleh situasi dan tujuan pendidikan disebut interaksi pengajaran yang edukatif, atau cukup disebut dengan “interaksi edukatif”. Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti menjadi milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan, pikiran-pikiran, keterampilan, dan nilai. Interaksi edukatif adalah proses interaksi yang disengaja, sadar tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaannya[2].
Dalam interaksi mengajar-belajar terjadi proses pengaruh-mempengaruhi bukan hanya guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda, apabila menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, kelas yang berdisiplin dengan yang kurang disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi kepada siswa dengan guru, tetapi antara siswa dengan manusia sumber (yaitu orang yang bisa member informasi), antara siswa dengan siswa lain, dan dengan media pelajaran. Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa, tanpa siswa dalam kelas maka guru tidak bisa mengajar. Lain hal nya dengan kegiatan belajar, siswa dapat belajar meskipun tanpa kehadiran guru. Para siwa dapat melakukan kegiata belajar sendiri. Sebenarnya dalam kegiatan belajar sendiri ini gurunya tetap ada, akan tetapi tidak hadir bersama siswa[3].
A.    UNSUR NORMATIF dan TEKNIS

Dalam setiap bentuk interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, unsur normatif dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai pendidik) dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama pengajaran PMP misalnya guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai palsafah hidup bangsa Indonesia. Demikian pun dalam pengajaran agama, guru dan peserta didik harus meyakini bersama tentang agama yang sama.
Pengajaran sebagai bagian dari pendidikan, sedangkan pendidikan itu sifatnya normatif Maka dalam proses pengajaran mesti mencerminkan interaksi yang bersumber pada sumber-sumber norma agama, falsafah hidup (pancasila). Penjelesan selanjutnya mengenai hal ini merupakan bidang garapan teori dan filsafat pendidikan [4].
Setiap aktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis. Suatu contoh, bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU No. 2/1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, BAB II, Pasal 4). Tujuan ini direalisasikan secara teknis yakni, dengan mengembankan pada studi bidang studi yang dipelajari peserta didik. Dalam rangka ini harus didukung oleh semua faktor edukatif : tujuan, bahan, guru, dan peserta didik, metode, dan situasi.
Interaksi belajar mengajar yang terjadi secara langsung didalam kelas,mungkin diteruskan diluar kelas atau diluar sekolah,dalam bentuk interaksi secara tidak langsung. Guru dapat memberikan berbagai bentuk penugasan agar para siswa juga melakukan berbagai aktivitas belajar di luar sekolah. Kegiatan belajar sendiri diluar kelas, berfungsi, memantafkan, memperdalam dan memperluas bahan ajaran yang diberikan guru didalam kelas/sekolah. Seringkali para siswa tidak cukup memadai penguasaannya apabila hanya belajar didalam kelas atau sekolah, tetapi perlu dimantapkan/diperkaya dengan belajar sendiri diluar sekolah/dirumah.
Interaksi guru dengan siswa bukan hanya dalam penguasaan bahan ajaran, tetapi juga dalam penerimaan nilai-nilai, pengembangan sikap serta dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Dengan demikian peran guru juga bukan hanya sebagai pengajar dan pelatih, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing [5].

B.     GAMBARAN INTERAKSI EDUKATIF
Dikisahkan, seorang guru dalam pelajaran sejarah sedang membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi selama Perang Dunia II. Dengan rinci dan mendalam guru itu menjelaskan berbagai kerugian kemerosotan, dan lain-lain bentuk negatif yang timbul sebagai akibat adanya peperangan. Untuk membuktikan atau memperkuat ulasan-ulasan itu, guru mengutif berbagai peristiwa beberapa perjanjian internasional, dan lain-lain data sejarah yang dianggap relevan. Pada akhir pelajaran sejarah yang memakan waktu Sembilan puluh menit guru menyimpulkan agar setiap peserta didik cinta perdamaian dan mengutuk peperangan karena “setiap peperangan akan membawa kerugian material dan spiritual bagi dunia, baik pada mereka yang kalah, maupun pada mereka yang menang, dan juga malahan pada mereka yang secara tidak langsung ikut terlibat.”
Pada minggu berikutnya ketika pelajaran tiba lagi, guru itu memutuskan untuk mengetahui lebih dahulu pelajaran yang lalu sebelum mulai dengan palajaran yang lalu sebelum mulai pelajaran baru. Cara yang ditempuhnya ialah dengan memajukan pertanyaan secara lisan, yang ditunjukan pada seluruh peserta didik dikelas. Pertanyaannya adalah :  
Kamu tentunya masih ingat minggu lalu bahwa saya menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perang dunia kedua, dan bahwa pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa itu adalah bahwa kita harus memben….(guru berhanti sejenak) membenci peperangan bukan ?  Bagus. Sekarang adakah diantara kamu yang dapat menerangkan dengan jelas alasan mengapa kita harus demikian?
Terhadap pernyataan itu,seorang peserta didik segera menaikan tangan kemudian berdiri,dan berkata dengan suara yang tegas : “saya tidak suka peperangan, sebab setiap peperangan hanya menambah banyak nya bahan sejarah yang harus dipelajari,sedangkan saya tidak suka pelajaran…sejarah ! “
Tidak diharapkan bahwa ilustrasi diatas betul-betul terjadi sebab alangkah besarnya kegagalan interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik itu. Interaksi tersebut gagal karna tidak ada bahasa yang sama antara guru dan peserta didik yang mengakibatkan terjadinya komunikasi yang saling surut dan yang dengan sendirinya,tidak membawa mereka pada tujuan interaksi. Tujuan guru tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan,walaupun mungkin kisah tersebut dituturkan lebih sebagai uraian didaktis dari pada sebagai laporan yang actual,didalam kenyataan sehari-hari sebenarnya tidak sedikit peristiwa yang benar-benar menunjukkan interaksi yang serupa dengan ilustrasi tersebut diatas.
Pelajaran sejarah tersebut dan agaknya banyak terjadi pada pelajaran sejarah tidak membawa pelajaran pada kemampuan menganalisis peristiwa dunia dan negaranya secara historis. Pelajaran tidak berhasil tiba pada tarap kemampuan untuk melihat dan berpikir secara historis.pengetahuan sejarah mereka terhenti pada dan terbelenggu oleh sekumpulan data, fakta dan nama-nama orang. Penyelidikan di bidang metodik pengajaran sejarah banyak memberikan petunjuk bahwa data sejarah yang diharuskan untuk dipelajari adalah data yang bukan saja terlepas dari akar kehidupan,tetapi juga terlepas dari ikatan satu sama lain. Akibatnya,sudah enam tahun “didik” sejarah,satu-satunya yang tertancap didalam ingatan peserta didik ialah “guru sejarah yang sedemikian membosankan”. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa pendidikan sejarah serupa itu adalah pendidikan yang tepat untuk membenci sejarah,membenci guru sejarah,membenci segala sesuatu yang bersangkut paud dengan sejarah. Inilah satu contoh dimana interaksi yang maksudkan bersifat edukatif justru berakibat destruktif [6].
Menurut falsafahnya setiap orang akan mengiyakan bahwa mengetahui sesuatu belum berarti berbuat menurut yang diketahui, Malahan Rousseau pemikir Prancis yang murtat itu pernah mengatakan “dengarlah yang dikatakan, jangan melihat perbuatan ku.” Menurut kenyataan tidak jarang kita jumpai bentuk-bentuk interaksi yang terbatas hanya pada pemberian pengetahuan, padahal interaksi itu dilakukan dengan maksud untuk membawa perubahan dalam bentuk tingkah laku peserta didik. Misalnya saja pendidikan agama, pelajaran diberi keterangan-keterangan mengenai agama, katakanlah agama Islam. Hasil pelajaran itu adalah terkumpulnya sejumblah pengetahuan tentang seluk beluk agama Islam. Pendidikan atau disempitkan dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan, dengan sistimatis terarah pada perubahan tingkah laku, menuju kedewasaanpeserta didik. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses perubahan itu tak dapat dicapai, dan proses yang dimaksud disini adalah proses pendidikan.
Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alas an atau tujuan pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Bila ditinjau secara luas akan jelas tampak bahwa manusia selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar. Hanya soalnya, tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada diluar titik tujuan perlulah perkembangan itu diarahkan. Setidak-tidaknya sebagian dari kehidupan itu perlu dibimbing secara sistematis. Disilah saatnya muncul gambaran guru. Disinilah guru dibutuhkan. Ia dibutuhkan untuk member bekal hidup yang berguna. Ia harus dapat memberikan pendidikan secara didaktis. Tegasnya ia harus menciptakan situasi dan interaksi edukati.
Tidak cukup bagi seorang guru untuk semata-mata memperhatikan bahan atau ilmu pengetahuan yang akan diajarkan padanya, misalnya seorang instruktur militer mendalami ilmu perang, seorang insinyur mendalami konstruksi bangunan, seorang ahli ekonomi mendalami ilmu ekonomi. Mereka itu semua harus mengetahui juga segi-segi didaktik dan metodik pengajaran ilmu tersebut. Tidak dengan sendirinyaseorang poenari dapat menjadi guru tari; seorang ahli hukum, seorang ahli ilmu falak, seorang sastrawan, belumlah dengan sendirinya dapat mengajarkan kepandaiannya [7].
C.    FAKTOR-FAKTOR INTERAKSI

Faktor-faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
·         Faktor tujuan
·         Faktor bahan/materi/isi
·         Faktor guru dan peserta didik
·         Faktor metode
·         Faktor situasi
Sebagaimana diketahui bahwa proses pengajaran pada hakikatnya merupakan rangkaian
Kegiatan komunikasi antar subjek didik guru dan peserta didik. Komunikasi antar dua subjek ini dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya; tujuan, bahan, guru dan peserta didik, metode dan situasi, dan sebagainya. Namun penulis memandang bahwa kelima factor yang akan dijabarkan berikut ini merupakan faktor pokok dan penting untuk mendukung terjadinya peristiwa pengajaran yang dalamnya akan muncul suatu bentuk interaksi pengajaran yang edukatif sifatnya.
1.      Faktor Tujuan
Terdapat beberapa istilah tujuan, baik yang bersifat umum maupun khusus, baik yang bersifat akhir maupun terminal/intermedier/sementara.
Ada istilah aims dikonotasikan sebagai tujuan yang paling umum bersifat luas dan paling akhir. Aims sebagai suatu statemen umum yang memberikan gambaran dan arah yang akan dituju, ia menjadi pangkal tolak, ide/inspirasi dan pengarahan. Rumusan aims meliputi didalamnya 3 unsur pokok.
§  Pertanyaan umum mengenai nilai
§  Keamanan usaha diarahkan
§  Saran penyesuaian jika terdapat hal lain yang berubah.
John Dewey menyarankan, jika suatu aims dirumuskan maka ada tiga hal yang mesti diperhatikan

a.       Faktor relevan dengan situasi
b.      Bersifat tentative, artinya harus fleksibel dan dapat di ubah sesuai perkembangan kebutuhan
c.       Hendaknya meningkatkan aktivitas-aktivitas
Goals, sebuah istilah yang lebih nyata dan sering disebut tujuan umum. Goals merupakan penjelasan yang lebih rinci yang berpijak dari dasar pemikiran utama aims. Dalam menetapkan rumusan tujuan khusus, maka kita berhubungan dengan dua hal yaitu “kesesuaian” dan “kegunaan” istilah “kesesuaian” menunjukan bahwa tujuan khusus mesti sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi. Sesuai pula dengan apa yang dikehendaki oleh tujuan yang ada di atas yaitu tujuan umum goals.
Tujuan pendidikan/pengajaran yang bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis :
a.       Tujuan kognitif, tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan
b.      Tujuan efektif, tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai, dan alasan
c.       Tujuan psikomotorik, tujuan yang berkaitan dengan keterampilann menggunakan telinga, tangan, mata, alat indra, dan sebagainya.
Tiga syarat utama untuk terwujudnya interaksi pengajaran yang edukatif, adalah[8].
Ø  Merumusakan tujuan, menyempitkan lapangan tujuan umum ke dalam bentuk yang tampak pada tingkah laku peserta didik;
Ø  Mengkhususkan tujuan;
Ø  Memfungsional tujuan, bahwa tujuan yang diharapkan nyata berguna bagi perkembangan peserta didik.  

2.      Faktor Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan bahan oleh guru seyogyanya mengarah pada spesifik/ takhasus atas ilmu kecakapan yang diajarkanya. Mengingat isi, sifat, dan luasnya ilmu , maka guru harus mampu menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa-apa yang akan di ajarkanya kedalam bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan. Penyusunan unsure-unsur atau informasi-informasi yang baik itu bukan saja untuk mempermudah peserta didik untuk mempelajarinya, melainkan juga memberikan gambaran yang jelas sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran.
  Isi bahan pengajaran itu luas sekali dan berbeda dalam tinggi rendah serta sukar mudahnya. Macamnya pun banyak. Karenanya , sebelum menentukan bahan study pengajaran yang akan di pelajari oleh peserta didik perlu di adakan pilihan terlebih dahulu. Pilihan itu biasanya berdasarkan pada pedoman –pedoman tertentu agar keseluruhan bahan yang telah di tentukan itu teratur dan mencerminkan suatu hal yang integral bagi hidup peserta didik selama di sekolah sekarang, dan sesudahnya. Yang menentukan pedoman tersebut ialah pihak Depdikbud.isi pedoman yang di maksud adalah di sekitar kesesuaian bahan pengajaran dengan tujuan institusional, tujuan kurukulum, tujuan pengajaran, serta tujuan pendidikan pada umumnya dan haluan Negara . selain itu , bahan pengajaran pula harus disesuaikan dengan tingkatan jenjang pendidikan, tahap perkembangan jiwa dan jasmani peserta didik serta kebutuhan-kebutuhan yang ada pada mereka.
3.      Faktor Guru Dan Peserta Didik
    Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik sebagai pihak yang secara langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa belajar mengajar yang terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah di tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju pada arah tujuan melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta didik) menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status yang penting.
      Kemudian untuk menjadikan perofesionaltas kerja guru setidaknya ia memiliki 4 bidang utama.
a.       Guru harus mengenal setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya
b.      Guru harus memiliki kecakapan member bimbingan, sebab mengajar hakekatnya membimbing.
c.       Guru harus memiliki dasar penetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan / pengajaran
d.      Guru harus memiliki pengetahuan bulat dan baru mengenai ilmu yang di ajrkan.
     Dalam rangka menemban tugas profesionalitas kepengajaranya oleh siti meichati, M.A, didasarkan agar” guru memberikan perhatian dan kesenangan kepada peserta didik untuk belajar dan mendorong mereka untuk berfikir, punya rasa simpati, jujur,adil, bersedia menyesuaikan diri dan memperhatikan orang lain ( peserta didik) menguasai bidangnya,”
    Peran guru adalah ganda, disamping ia sebagai pengajar adalah sekaligus sebagai pendidik. Dengan demikian dalam waktu yang bersamaan ia harus mengemban 2 tugas utama yaitu mengajar dan mendidik. Keduanya sulit untuk dipisahkan salah satunya, sebagai keeping satu mata uang. Sebagai contoh setelah guru menerangkan banyaknya pulau kita( bangsa Indonesia) memiliki, kekayaan dan kesuburan alam di Indonesia ( segi mengajar) guru wawib berusaha mnginsakan peserta didik bahwa negara  lain banyak yang ingin menguasainya dan mengobarkan ( membangkitkan) semangat peserta didik untuk membela tanah air inn=donesia sekaligus mengsyukur ats hal itu. Juga mengarahkan mereka untuk menjalin rasa persatuan dan kesatuan antar sesame warga/ bangsa indonesia , (segi mendidik)
     Secara garis besar persyaratan kepribadian guru dapat disimpulkan menjadi 3 kompetensi( kemampuan)
-          Kompetensi indifidual
-          Kompetensi social
-          Kompetensi professional
4.      Faktor Metode
Metode adalah suatu kata kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai satu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaianya . Tetapi tidak ada satu metode pun yang di katakana paling baik/


dipergunakan bagi semua macam usaha pencapaian tujuan, baik tidaknya , tepat tidaknya satu metode di pengaruhi oleh berbagai factor. Faktor utama yang menentukan metode adalah tujuan yang akan dicapai.
      Metode mengajar/pengajaran, selain ditentukan/dipengaruhi oleh tujuan juga oleh factor kesesuaian dengan bahan, kemampuan guru untuk menggunakannya, keadaan peserta didik, dan situasi yang melingkupinya. Dengan kata lain, penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki:
Ø  Relevansi dengan tujuan
Ø  Relevansi dengan bahan
Ø  Relevansi dengan kemampuan guru
Ø  Relevansi dengan keadaan peserta didik
Ø  Relevansi dengan situasi pengajaran.
Secara umum metode-metode pengajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua:
a.       Metode pengajaran individual
b.      Metode pengajaran kelompok/klasikal.
      Adapun macam-macam metode itu sesungguhnya tidak terbatas banyaknya sekadar mengenal sebagian metode, dibawah ini penulis sebutkan sebagian dari banyak metode.
Ø  Metode ceramah/persentasi/kuliah mimbar
Ø  Metode diskusi (dengan segala jenisnya)
Ø  Metode Tanya jawab
Ø  Metode resitasi/penugasan
Ø  Metode experiment
Ø  Metode proyek
Ø  Metode karya wisata
Ø  Metode-metode lainnya.


5.      Faktor Situasi
Yang dimaksud situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu karena penggunaan suatu metode.
      Diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan, dan ada yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Pada umumnya dlam menetapkan suatu metode, selalu metode yang dianggap terbaik dan diperkirakan memenuhi saegala perhitungan yang digunakan, sedangkan factor situasi kurang dipertimbangkan. Hal ini seharusnya tak sebaiknya terjadi.
      Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan, kita (guru) dapat menyediakan alternative metode-metode mengajar dengan mengingat kemungkina-kemungkinan perubahan situasi. Situasi pengajaran yang kondusif (mendukung) sangat menentukan dan bahkan menjadi salah satu indicator terciptanya interaksi pengajaran, yang edukatif sifatnya.
      Terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan secara tiba-tiba diperlukan kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera mengenai cara-cara/metode-metode yang akan digunakan. Ketrampilan berimprovisasi dan kesigapan mengambil keputusan sungguh sangat diperlukan dalam situasi demikian. Kita tidak boleh tertegun atau terhenti sehingga tidak ada usaha sedikitpun untuk melaksanakan program dalam rangka mencapai tujuan, karena bukan saja akan merusak seluruh rencana pengembangan program melainkan juga merusak perkembangan peserta didik itu sendiri.
\


 

   

BAB III
KESIMPULAN
Suatu interaksi dikatakan memilki sifat edukatif bukan semata ditentukan oleh bentuknya melainkan oleh tujnuan interaksi itu sendiri. Maka setiap bentuk hubungan bersama antara guru dan peserta didik tidak selalu berlangsung secara edukatif. Sudah tentu tujuan interaksi harus bersifat edukatif pula, sedang pencapaiyannya dilaksanakan dalam proses belajar mengajar (pengajaran).
Dalam setiap bentuk interaksi edukatif akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, unsur normatif dan unsure teknis dalam interaksi normatif antara guru (sebagai pendidik) dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan atau tujuan pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupan, yakni membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh peserta didik itu. Tugas perkembangan tersebut mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.










Daftar  Pustaka

Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd, Pengelolaan Pengajaran, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004
Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010
R.Ibrohim, Nana Syaohidih S, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003         





       [1] Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd, Pengelolaan Pengajaran, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2004. Hal 93
       [2] Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2010. Hal 18
       [3] R.Ibrohim, Nana Syaohidih S, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003. Hal 31-32
       [4] Op.Cit  Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 94
       [5] Op.Cit R.Ibrohim, Nana Syaohidih S. Hal 34
       [6] Ibid, Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 96-97
       [7] Ibid, Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd  Hal 
       [8] Ibid Drs. Ahmad Rohani HM,M.Pd. Hal 107

pendidikan dalam perspektif islam

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang “pendidikan dalam perspektif islam”, meliputi konsep pengetahuan dalam islam,baik pengetahuan umum dan pengetahuan agama, tujuan pendidikan islam, baik dari tujuan keagamaan maupun tujuan keduniaan, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
B.     Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang saya bahas dalam makalah ini adalah tentang pendidikan dalam perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan pendidikan islam, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan Makalah ini saya susun adalah untuk:
1. Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tentang pendidikan dalam perspektif islam, meliputi konsep pengetahuan islam, tujuan pendidikan islam, Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif), Pendidik/Guru dalam pendidikan islam, dan Pendidikan Dalam Rumah Tangga.

2. Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat makalah tentang pendidikan islam yang actual dan factual.
    
D.  Metode Penulisan
            Metode penulisan yang saya pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan library research yaitu metode yang menggunakan buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang saya buat sebagai bahan utama dan sebagai penunjang mengguankan internet dalam pembuatan makalah ini.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Pengetahuan dalam Islam
Menurut Al-quran, semua pengetahuan datang dari Allah. Konferensi internasional tentang Pendidikan islam tahun 1980 membuat rekomendasi sebagai berikut ini (King Abdul Aziz University). Semua pengetahuan datang dari Allah. Sebagian di wahyukan kepada orang yang di pilih nya dan sebagian lagi diperoleh manusia dengan menggunakan indera, akal, dan hatainya. Pengetahuan yang di wahyukan mempunyai kebenaran yang absolute sedangkan pengetahuan yang diperoleh, kebenaran nya tidak mutlak.[1]
                Pengetahuan adalah semua yang diketahui 1 ini tentu bukanlah definisi pengetahuan,tetapi itu sudah lumayan untuk menjelaskan apa pengetahuan itu. Dalam pembicaraan sehari-hari sering kali dengar dengan istilah pengetahuan umum dan pengetahuan agama.
 
1.Pengetahuan umum

            Pengetahuan sains adalah jenis pengetahuan manusia yang pertama.dalam bahasa indonesia yang pertama,pengetahuan ini disebut ilmu. Orang indonesia menyebut "sains" dengan"ilmu pengetahuan". Dalam bentuknya yang baku (hingga kini)pengetahuan sains mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya ialah paradigma sains,metodenya disebut metode Lanjutan pengetahuan sains yakni pengetahuan jenis kedua yang disebut dengan pengetahuan filsafat. Paradigma untuk pengetahuan filsafat kita sebut paradigma logis, metodenya disebut metode rasional yang mengandalkan pemikiran akal. Cara kerja metode ini sulit dijelaskan, yang dapat dikatakan ialah "mencari kebenaran tentang sesuatu dengan cara memikirkannyasecara,logis".
Pengetahuan mistik adalah jenis pengetahuan yang ketiga, yakni segala pengetahuan yang diperoleh lewat hati, diperoleh dengan cara melatih hati agar dapat merasakan, menangkap pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh akal dikepala. Pengetahuan jenis ini objeknya diluarlogika,yaitu
:supralogis.

2. pengetahuan agama
bila agama adalah wahyu tuhan, maka Al-qur'an itu isinya ada yang dapat dipahami secara sains, ada yang dapat dipahami secara filsafat, dan kebanyakan dapat dipahami secara mistik. dilihat dari segi lain seluruh ayat Al-qur'an harus diterima dengan yakin, berarti semuanya masuk pengetahuan mistik. Jadi Al-qur'an itu isinya ada yang sains, logis, dan mistik.
Diatas itu ialah satu cara membagi pengetahuan manusia. Ada lagi cara membagi yang lain, yaitu:
1) pengetahuan yang diwahyukan, yaitu pengetahuan yang diterima, ini adalah pembagian menurutislam.
2) Pengetahuan yang diperoleh, maksud diperoleh ialah dicari sendiri oleh manusia.
Yang dimaksud dengan pengetahuan agama atau ilmu agama ialah penegtahuan yang diwahyukan, yaitu penegtahuan tentang Al-qur'an dan hadits serta semua pengetahuan tentang isinya yang biasanya dikembangkan dalam tradisi islam. Menurut islam, pengetahuan tidak ada segi baiknya bila tidak menunjukkan kepada hakikat pertama alam ini ialah Allah.


B.     Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan islam tidak lah selalu paten di sepanjang perjalanan periode islam. Pada abad pertama Hijriyah tujuan pendidikan islam berbeda dengan tujuan pendidikan pada abad ke-4, oleh karena itu kita lihat bahwa tujuan dan sasaran pendidikan islam itu meengalami perkembangan pada abad-abad berikut nya. Pada hakikat nya tujuan pendidikan islam itu selamanya bersumber dari aliran rasionalisme dan keagamaan, yang di ikuti para pendidik muslim. Akibatnya pendirian atau pandangan mereka serta tujuan-tujuan pendidikan yang mereka ikuti dalam pengajaran dan pendidikan saing berbeda menurut aliran paham mereka.[2]
Tujuan pendidikan islam dibagi kepada dua macam tujuan yang prinsipial, yaitu:
1.      Tujuan keagamaan
      Yang dimaksud tujuan keagamaan ini adalah bahwa stiap pribadi orang muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap tuhan nya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunat dan yang fardhu bagi seorang mukallaf.
Tujuan ini menurut pandangan pendidikan islam dan para pendidik muslim mengandung esensi yang amat penting kaitannya dengan pembinaan kepribadian individual; diibaratkan sebagai anggota masyarakat yang harus hidup didalamnya dengan dengan banyak berbuat dan bekerja untuk membina sebuah gedung yang kokohdan kuat. Di sini Nampak jelas tentang pentingnya tujuan pendidikan ini, karena sebenarnya agama itu sendiri mempunyai hubungan erat dengan berbagai aspek pendidikan kejiawaan dan pendidikan kebudayaan secara ilmiah dan falsaiyah. Maka dari itu agama mengarah kan tujuan nya kepada pencapaian makrifat tentang kebenran yang haq, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.
Disamping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas yakni suatu petunjuk jalan yan yang benar di,mana tiap pribadi muslim mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia berjalan secara manusiawi.
Dengan demikian Agama sebenarnya memberikan topic-topik pembahsan , diantaranya yang paling esensial ialah pembahasan dari sdut falsafah, misalnya agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita jalan-jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tentang kehidupan kita di dunia dan di akhirat, filsafat juga berusaha menganalisis problem-problemnya.
Jika kita mendalami makna dari tujuan keagamaan pendidikan islam, maka kita jumpai bahwa tujuan itu menyingkapkan kepada kita sejauh mana kedekatan ilmu pengetahuan dengan agama. Kenyataan demikian memperkuat adanya bukti bahwa sesungguhnya agama kita mempergunakan ilmu pengetahuandalam ketetapan-ketetapan dan keputusannya, yang mengajak kepada penemuan kenyataan yang benar guna memuaskan akal fikiran (ratio).
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi sebagai berikut:
* `yJsùr& ÞOn=÷ètƒ !$yJ¯Rr& tAÌ“Ré& y7ø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ‘,ptø:$# ô`yJx. uqèd #‘yJôãr& 4 $oÿ©VÎ) ㍩.x‹tGtƒ (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÈ
Artinya:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”,(Ar-ra’du.19).

2.      Tujuan Keduniaan
      Tujaun ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang di arahkan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis), atau untuk untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Tujuan ini memperkuat oleh aliran pragmatism yang dipelopori oleh ahli filsafat Jhon Dewey dan Wiiam Kilpatrick. Para ahli filsafat pendidikan pragmatism lebih mengarah kan pendidikan anak kepada gerakan amaliah (ketrampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan.[3]  

            Pendidikan adalah satu-satunya rute ke mobilitas social yang ada di dalam nya Mengenai Eropa Barat,konteks demokratis liberal. Pendidikan juga dikondisikan oleh isu kelas,
efek sekolah, pendidikan orang tua dan isu bermasyarakat lebih luas yang di/terpengaruh oleh
globalisasi dan internationalisasi tenaga kerja dan [modal/ibukota], [yang] yakni
peran pasar pekerja. Di dalam negara yang mayoritas orang islam, pendidikan yang menderita            penyakit akut dinilai kurang, jenis kelamin ketidaksamaan dan ketiadaan suatu sosial sesuai
infrastruktur untuk mendukung intelektual, moral, pengembangan budaya dan etis[4].

Adapun saat ini dan zaman tekhnologis, tujuan ini mengambil kebijakan baru, yang lebih menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat di dalam setiap peristiwa kehidupan, dan juga memakai strategi pendidikan seumur hidup (life long education).
Sedangkan pendidikan islam melihat tujuan pendidikan ini dari aspek dan pandangan baru yaitu berdasarkan Al-quranulkarim, yang sangat memusatkan perhatian kepada pengalaman dimana seluruh kegiatan hidup umat manusia harus bertumpu padanya. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an selalu berkaitan antara iman dengan amal perbuatan yang salah, sebagai landasan yang kokoh dalam mengarungi kehidupan manusia.
      Dalam hubungan ini Allah berfirman sebagai berikut:
È@è%ur (#qè=yJôã$# “uŽz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qß™u‘ur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcr–ŠuŽäIy™ur 4’n<Î) ÉOÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ  
Artinya:
dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(At-taubah: 105)

Dan firman nya lagi:
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  
Artinya:
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.(Al-jum’at:10)

        Struktur pendidikan islam di bangun diatas landasan yang kokoh, yang menggunakan kedua tujuan kagamaan dan keduniaan. Dengan demikian, terdapat perbedaan besar antara tujuan-tujuan pendidikan dari umat-umat terdahulu dengan masa kini. Misalnya bangsa china dahulu mengutamakan pada pencapaian tujuan pendidikan yang mempersiapkan anak didik untuk hidup bekerja sama dalam tugas-tugas besar.

C.    Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia (Sistem alternatif)
Ada dua bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari kalangan ahli pendidikan islam di Indonesia. Bentuk-bentuk itu sudah hampir pasti mendukung usaha pendidikan islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu mempengaruhi orang untuk beragama islam atau meningkatkan keislaman seseorang. Bentuk-bentuk yang di maksud adalah Pesantren kilat dan perguruan silat tenaga dalam.[5]

1.      Pesantren Kilat
Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang islam di Indonesia. Itu adalah nama lembaga pendidikan islam yang paling tua di Indonesia. Pada embaga pesantren biasanya ada kiai, ada santri, ada kegiatan membaca kitab kuning, ada pomdokan santri, dan ada masjid. Itulah kira-kira “syarat” untuk untuk disebut pesantren. Pesantren kilat itu apa?
Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di departemen agama pusat mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren gontor bia dating saat libur sekolah. Di sana mereka mondok dan belajar agam,ya, selama libur tersebut. Itulah mungkin asal-usul pesantren kilat. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota bandung banyak sekali orang yang menylenggarakan pesantren kilat.
Apa yang mendorong suburnya pesantren kilat? Dari berbgai penelitian kecil dapat diketahui motif orang tua memasukan anak nya ke pesantren kilat.
·         Agar anaknya tidak nakal
·         Motif mengisi waktu selama libur sekolah dengan mengikuti kegiatan positif
·         Menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah

2.      Perguruan Silat Tenaga Dalam
Apa yang di maksud dengan perguruan silat tenaga dalam? Belum banyak penlitian yang dilakukan untuk mengungkapkan apa sebenarnya tenaga dalam dan seberapa jauh ia dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama islam. Oleh karena itu, disini belum banyak hal yang dapat dilaporkan. Sekalipun demikian , ada konsep-konsep kecil yang dapat dijelaskan alakadarnya, sesuai dengan pengertian yang dapat di tangkap dari eberapa penelitian yang dilakukan.
Secara gampang tenaga dalam adalah tenagaghaib. Disini kata “tenaga” itu mempunyai arti yang cukup luas, lebih luas dari pada pengertian dari tenaga yang dikenal dalam fisika. Tenaga dalam agaknya tidak akan dapat dipahami dengan akal saja: tenaga dalam terutama di fahami dengan cara “mengalami nya”. Pada silat tenaga dalam, tenaga dalam itu kelihatan dalam rupa seseorang dijatuh kan dari jauh, yaitu yang menjatuhkan tidak menyentuh orang yang dijatuhkannya. Akan tetapi, agaknya itu hanyalah saah satu bentuk (jenis) tenaga dalam. Kemampuan supranatural seperti pada permainan debus kelihatannya termasuk kedalam rumpun tenaga dalam. Sihir, guna-guna, pellet, dan sejenisnya, termasuk jampi-jampi dan doa, dapat digolongkan sebagai tenaga dalam.



D.    Pendidik/Guru Dalam Pendidikan Islam
Dalam konteks pendidikan Islam “pendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Kelima istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Murabbi adalah: orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya sertamenjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
Mu’addib adalah: orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.
Mudarris adalah: orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat , minat dan kemampuannya.
Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.

Definisi Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Sebagaimana teori Barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).
Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab member pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
Pendidik pertama dan utama adalah orangtua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kusuksesan orangtua juga. Firman Allah SWT.
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
“. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(At-tahrim:6)
Pendidik disini adalah mereka yang memberikan pelajaran peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah. orangtua sebagai pendidik pertama Dan utama terhadap anak-anaknya, tidak selamanya memiliki waktu yang leluasa dalam mendidik anak-anaknya. Selain karena kesibukan kerja, tingkat efektifitas dan efisiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Oleh karena itu, anak lazimnya dimasukkan ke dalam lembaga sekolah. Penyerahan peserta didik ke lembaga sekolah bukan berarti melepaskan tanggung jawab orangtua sebagai pendidik yang pertama dan utama, tetapi orangtua tetap mempunyai saham yang besar dalam membina dan mendidik anak kandungnya.
Syarat sah Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Syaikh Ahmad Ar Rifai mengungkapkan, bahwa seseorang bisa dianggap sah untuk dijadikan sebagai pendidik dalam pendidikan Islam apabila memenuhi dua criteria berikut :
1. Alim yaitu mengetahui betul tentang segala ajaran dan syariahnya Nabi Muhammad,Saw, sehingga ia akan mampu mentransformasikan ilmu yang komprehenshiv tidak setengah-setengah.
2.  Adil riwayat yaitu tidak pernah mengerjakan satupun dosa besar dan mengekalkan dosa kecil, seorang pendidik tidak boleh fasik sebab pendidik tidak hanya bertugas mentransformasikan ilmu kepada anak dididiknya namun juga pendidik harus mampu menjadi contoh dan suri tauladan bagi seluruh peserta didiknya. Di khawatirkan ketika seorang pendidik adalah orang fasik atau orang bodoh, maka bukan hidayah yang diterima ank didik namun justru pemahaman-pemahaman yang keliru yang berujung pada kesesatan
Kedudukan Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Pendidik adalah spiritual father (bapak rohani), bagi peserta didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu, pendidik memiliki kedudukan tinggi. Dalam beberapa Hadits disebutkan: “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar atau pendengar atau pecinta, dan Janganlah engkau menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak”. Dalam Hadits Nabi SAW yang lain: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebi berharga ketimbang darah para syuhada”. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang Rasul. Al-Syawki bersyair:
“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.
Al-Ghazali menukil beberapa Hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun (perhatikan QS. At-Taubah:122).selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak)kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.
Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam:
Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam paradigma Jawa , pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.
Sesungguhnya seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan atau mentrasfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi pendidik juga bertanggungjawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan perencanaan. Oleh karena itu, fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.  Sebagai instruksional (pengajar), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan.
2.  Sebagai educator (pendidik), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.
3.   Sebagai managerial (pemimpin), yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.
Dalam tugas itu, seorang pendidik dituntut untuk mempunyai seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu dapat berupa:
1. Kegairahan dan kesediaan untuk mengajar seperti memerhatikan: kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik.
2.     Membangkitkan gairah peserta didik
3.     Menumbuhkan bakat dan sikap peserta didik yang baik
4.     Mengatur proses belajar mengajar yang baik
5. Memerhatikan perubahan-perubahankecendrungan yang mempengaruhi proses    mengajar
6.     Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.




E.     Pendidikan Dalam Rumah Tangga
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keuarga.
            Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan pendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Ituasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergauan dan hubungan pengaruh secara timbal balik antara orang tua dan anak.[6]
            Mengingat penting nya hidup keluarga yang demikian , maka islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan hidup kecil saja, melainkan lebih dari itu, yakni sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk hidup celaka atau bahagia dunia dan akhirat. Pertama-tama Allah memerintah kan kepada nabi Muhammad dalam mengembangkan agama islam adalah untuk mengajarkan agama itu kepada keluarganya, baru kemudian kepada masyarakat luas. Hal ituberarti didalamnya terkandung makna bahwa keselamatan keluarga harus lebih dahulu mendapat perhatian atau harus didahulukan ketimbang keselamatan masyarakat. Karena keselamatan masyarakat hakikatnya bertumpu pada keselamatan keluarga.[7]
Firman Allah :

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±tã šúüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ  
Artinya:
“dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (asy-syuruara’:214)
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, Rosulullah bersabda. “Tiada seorang bayipun  yang lahir melainkan ia dilahirkan diatas fithrah. Lalu kedua orang tua nyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi atau nasrani: seperti binatang itu melahirkan binatang yang sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan? Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah :
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Allah telah memerintahkanorang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong  mereka untuk itu dan memikul tanggung jawab kepada mereka.[8]
Allah berfirman :
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-tahrim : 6)
            Tanggung jawab pendidikan islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:
Ø  Memelihara dan membesarkan anak. Ini adalah entuk yang paling sederhana dari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
Ø  Melindungi dan menjamin keselamatan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai ganguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupandaru tujuan yang sesuai dengan filsafat hidup dan agama yang dianutnya.
Ø  Memberi pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapai nya.
Ø  Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

F.     Jurnal Asing Yang Berkaitan
Islam and
Education
MAJOR THEMES IN EDUCATION
Edited and with a new introduction by Dr Tahir Abbas,
Associate Professor of Sociology at Fatih University, Istanbul
The study of Islam and Muslim minorities has shifted in recent years from
being mainly an academic fringe interest to a central concern of governments,
with issues of theology, migration, development, identity, and economic and
political ideology all important considerations in understanding the essential
issues impacting on Muslims and the nature of Muslim-non-Muslim relations.

Education is often the only route to social mobility in Western European
liberal democratic contexts. Education is also conditioned by issues of class, the
effects of schools, the education of parents and wider societal issues affected by
globalisation and the internationalisation of capital and labour, namely the
role of labour markets. In Muslim majority lands, education suffers from acute
under-investment, gender inequality and the lack of an appropriate social
infrastructure to support intellectual, moral, ethical and cultural development.
Classical Islamic education is explored, analysing the impact of the classical
Islamic period in history and the developments in education which have
emanated from it. With focuses on education in Muslim Asia, Africa and the
Middle East, capturing the essential issues in each of the countries studied, and
how they vary across a vast region, the impact of culture and modernisation on
traditional societies as well as the ways in which westernised modes of
education are introduced, and the aspirations of youth are in turn determined.
The education of Muslims in North America and Europe, minorities in
advanced liberal secular democratic nation-states, are also studied, where
matters of identity, culture, gender, social class, the effects of educational
institutions and the wider societal context in which these social forces are
played are all important.
Fully indexed and with a comprehensive introduction newly written by the
editor, Islam and Education is an essential work of reference that is destined to
be valued by scholars and students—as well as policy-makers and
practitioners—as a vital one-stop research resource.
Routledge Major Works
Routledge
November 2010
234x156: 1,600pp
Set Hb: 978-0-415-47845-8












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat di simpulkan bahwa pendidikan dalam perspektif islam meliputi berbagai aspek yang pertama tentang konsep pengetahuan dalam islam baik dari segi umum maupun agama,  tentang tujuan pendidikan islam, meliputi tujuan keagamaan dan juga tujuan keduniaan.
Tentang Bentuk Baru Sistem Pendidikan Islam di Indonesia yang mana disitu terdapat sistem alternatif dalam pengembangan belajar tentang islam dengan mengikuti kegiatan seperti pesantren kilat dan juga perguruan silat tenaga dalam yang berbasiskan keislaman.
Pendidik/ Guru dalam pendidikan islam sangat besar pengaruhnya dalam pengembangan seorang peserta didik tentang pengetahuan baru yang mungkin tidak didapati di rumah, tetapi pendidik yang pertama dan utama tentunya adalah keluarga atau orang tua karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
B.     Saran
Kita sebagai calon guru pendidikan agama islam harus lah lebih kreativ atau seperti yang pernah saya dengar dari dosen saya “kita harus lebih berkeringat”, sebab berhasil atau tidaknya pendidikan agama banyak ditentukan oleh kita nantinya sebagai calon guru agama walaupun peran orang tua peserta didik tidak dapat di kesampingkan.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Aljumbulati, Ali dan Abdul futuh At-Tuwaanisi. Perbandingan Perbandingan islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
Daradjat, Zakiah dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Suwaid, Muhammad. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah, 2003.


[1] DR.Ahmad Tafsir,Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya,1992) hlm:8
[2] Ai Al-jumbulati,Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam.(Jakarta: Rineka Cipta, 2004) hlm: 36
[3] Ibid. hal: 38
[4] Jurnal by Tahir Abbas, November 2010

[5] Ahmad tafsir, Op.Cit, hlm:120
[6] Dr.Zakiah daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm:35
[7] Ibid, hlm: 36
[8] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak bersama Nabi,(Solo, Pustaka Arafah : 2003) hlm : 21